Wednesday, December 2, 2009

Memberi Sebagai Etalase Rohani

Ayat bacaan: Matius 6:4
===================
"Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."

memberi, etalase rohani, pamerUcapan selamat kerap mengisi banyak halaman koran ketika ada hajatan-hajatan penting seperti pelantikan kepala negara atau kepala daerah. Begitu juga ketika ada orang besar/terkenal mengadakan pesta. Karangan bunga, papan ucapan, bingkisan, parcel dan sebagainya, biasa juga dipakai untuk menyampaikan ucapan selamat ini. Ketika ada yang meninggal, berbagai ucapan belasungkawa dan papan ucapan serta karangan bunga juga sering dipakai untuk menyatakan simpati dan turut berdukacita. Bentuk ucapan seperti itu sudah menjadi hal yang lumrah bagi kita, dan tentu sah-sah saja. Tapi apakah benar motivasi pemberian itu adalah turut bergembira atau berdukacita yang tulus? Kita sering melihat bahwa nama perusahaan berikut logo dicantumkan besar-besar. Kenyataannya ada banyak orang yang memberikan itu semua hanya sebagai upaya untuk bisa mendapat nilai lebih atau diingat oleh orang yang diberi. Setidaknya urusan ke depan bisa menjadi lebih mulus. Dalam berbagai pemilihan kita akan melihat begitu banyak kontestan atau calon yang berebut memberikan sumbangan berupa baju kaos, sembako atau bahkan uang dengan tujuan agar mereka dipilih. Begitu terpilih, mereka tidak lagi melakukannya karena apa yang mereka inginkan sudah tercapai. Sebuah kampung di dekat rumah saya selalu bergembira jika ada rangkaian pemilihan seperti ini. Baik pemilihan kepala daerah, pemilihan anggota legislatif, partai dan sebagainya. Mengapa? Karena itu saatnya bagi mereka untuk menuai banyak. "Yang penting dapat uang, soal siapa yang saya pilih nanti saja." kata seorang penduduk pada saya ketika itu. Tidak heran jika hari ini mereka memakai atribut A, besok orang yang sama akan memakai atribut B. "Peduli amat, habis ini mereka juga tidak akan pernah memberi lagi sampai pemilihan berikutnya" sambungnya lagi. Pemberian seperti ini bukanlah pemberian tulus, karena ada agenda di balik itu untuk kepentingan pribadinya.

Memberi merupakan kewajiban semua manusia dan merupakan perbuatan mulia. Sedekah, sumbangan, bantuan, fundraising dan sebagainya adalah bagian dari ibadah yang dianjurkan oleh semua agama. Bagi kita pun demikian. Yesus berkata "Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu." (Lukas 6:38). Pemberian adalah bagian dari kepedulian terhadap sesama yang memenuhi hukum kedua yang terutama yaitu "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." (Matius 22:39). Dan tentu saja, ketika kita memberi, itu artinya kita melakukan sesuatu untuk Yesus. (Matius 25:40). Memberi itu baik, namun motivasi di balik pemberian itu sesungguhnya sangat menentukan nilai pemberian kita. Apakah kita memberi karena rasa belas kasih dan turut prihatin dengan tulus atau kita memiliki maksud-maksud tersembunyi dibalik itu? Apakah kita memberi karena kita mengasihi sesama dan ingin mengalirkan kasih Tuhan kepada orang lain, atau kita ingin mendapatkan keuntungan, pujian, penghargaan dan berbagai agenda lainnya? Apa yang menjadi alasan kita dalam memberi akan menghasilkan perbedaan nyata dalam penilaian di mata Tuhan.

Orang-orang Farisi atau ahli-ahli taurat dan para pemimpin agama di masa Yesus adalah contoh terkenal mengenai kemunafikan. Mereka memang menyumbang, mereka berdoa, mereka rajin berpuasa, namun semua itu hanyalah bentuk etalase rohani agar mereka terlihat kudus dan mendapat simpati di mata rakyat. Tuhan Yesus mencela motivasi mereka yang munafik ini. "Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar." (Lukas 11:42-43). Mereka membayar perpuluhan, tapi mereka pilih kasih dan tidak mencerminkan bentuk kasih Allah dalam perbuatan mereka. Mereka selalu duduk paling depan di rumah ibadat agar mendapat pujian dari orang. Ini perbuatan tercela yang tidak mendapat hasil apa-apa dari Tuhan. Tuhan tidak berkenan dengan pemberian atau perbuatan yang didasari motivasi untuk memegahkan diri, mencari popularitas, pamor dan keuntungan dari manusia lain. Dalam hal memberi, apa yang diajarkan Tuhan Yesus adalah seperti ini: "Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya." (Matius 6:2). Jangan tiru orang-orang Farisi yang suka menggembor-gemborkan pemberian dan ibadah mereka agar mendapat pujian orang. Tidak ada upah apapun yang disediakan Tuhan bagi orang-orang yang memiliki motivasi seperti ini, yang menjadikan pemberian mereka sebagai etalase rohani dengan berbagai tujuan selain karena Tuhan. Apa yang seharusnya kita lakukan ketika memberi adalah jelas: "Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu." (ay 3). Dan, "hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu." (ay 4). Inilah pemberian yang bernilai di mata Tuhan.

"Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu". Perkataan ini diulang Yesus tiga kali seperti yang tertulis dalam Matius 6 untuk mengajarkan bagaimana kita harus melakukan tiga hal dalam ibadah kita, yaitu pemberian (ay 4), doa (ay 6) dan puasa (ay 18). Pemberian yang mendapat upah dari Tuhan adalah pemberian dalam ketulusan, dilakukan dengan hati yang murni, tanpa harus diketahui orang lain atau diumumkan. Tidak perlu orang lain melihatnya, karena Tuhan tahu dan akan memberkati apapun yang kita lakukan demi namaNya, termasuk perihal memberi ini. Karena itu penting bagi kita untuk cukup memberi dengan diam-diam, tidak pamer agar Tuhan berkenan dan menurunkan tanganNya memberkati kita. Jika tidak, sia-sialah semuanya. Meski yang diberikan besar nilainya sekalipun, tidak akan ada nilainya di mata Tuhan.

Pemazmur mengatakan "Mujur orang yang menaruh belas kasihan dan yang memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan sewajarnya. Sebab ia takkan goyah untuk selama-lamanya; orang benar itu akan diingat selama-lamanya." (Mazmur 112:5-6). Disamping itu kita pun harus ingat bahwa kita cukup memberi dengan keiklasan/kerelaan sesuai dengan kemampuan kita. Bukan besar kecilnya pemberian yang penting di mata Tuhan, tapi kerelaan dan ketulusan kita, itulah yang penting. "Sebab jika kamu rela untuk memberi, maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu." (2 Korintus 8:12).

Apa yang menjadi motivasi anda saat ini dalam memberi atau menolong orang yang membutuhkan? Apakah anda mengharapkan balasan? Apakah anda kecewa jika tidak mendapat ucapan terimakasih? Apakah anda mengharapkan pujian, penghormatan atau tepuk tangan dari mereka yang diberi atau orang-orang yang mengetahui pemberian anda? Atau anda akan sangat bahagia ketika bisa memberi, meski orang lain bahkan yang diberi sekalipun tidak tahu itu berasal dari pemberian anda? "Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima" (Kisah Para Rasul 20:35) , ini merupakan ajaran Tuhan Yesus yang akan dirasakan oleh orang-orang yang tulus tanpa pamrih dan tidak mengharapkan imbalan atau pujian ketika memberi. Sifat keinginan untuk dipuji, dikagumi, ingin terlihat lebih dari orang lain sesungguhnya adalah bagian dari kesombongan yang akan sangat berbahaya jika terus dibiarkan hidup dalam diri kita. Memberi itu sungguh baik, itu adalah sebuah perbuatan mulia yang sangat berkenan di mata Tuhan, namun lakukanlah itu dengan motivasi yang benar seperti apa yang diajarkan Yesus, agar semua itu bisa menjadi berkat bagi banyak orang dan juga bagi kita sendiri.

Kita tidak akan menerima upah dari Tuhan jika kita mencarinya dari manusia

Tuesday, December 1, 2009

Semangat Natal

Ayat bacaan: Filipi 2:5
=================
"Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus"

semangat natalTidak terasa kita sudah memasuki bulan Desember, dimana kita sebentar lagi akan merayakan Natal. Ini adalah bulan dimana hampir semua orang percaya akan lebih bersemangat dalam bekerja karena sebentar lagi akan ada libur, beberapa pesta atau tukar menukar kado dan berbagai kegiatan-kegiatan yang menggembirakan bersama keluarga dan sahabat-sahabat dekat. Sebagian dari kita mulai mengumpulkan lagu-lagu Natal agar bisa merasakan semangat Natal sejak awal bulan, bahkan mungkin ada sebagian di antara kita yang mulai membayangkan indahnya rumah diterangi kelap kelip pohon natal sebentar lagi. Pergi liburan bersama anak-anak, makan bersama keluarga besar, berkirim kartu ucapan, semua terasa begitu indah. Tidak heran mendekati Natal biasanya senyuman akan lebih mudah dijumpai di kalangan anak-anak Tuhan. Jika anda tinggal di luar negeri seperti Eropa atau sebagian dari Amerika, mungkin anda tengah menantikan turunnya salju yang sangat identik dengan Natal. Pusat-pusat perbelanjaan mulai berbenah dengan dekorasi dan lagu-lagu yang diputar pun tidak akan jauh dari lagu-lagu Natal. Salahkah itu semua? Tentu Tidak. Kelahiran Yesus sudah sepantasnya kita sikapi dengan sukacita. KedatanganNya ke dunia ini membawa misi penting untuk menebus kita semua, sebagai bukti nyata betapa Tuhan mengasihi manusia dan tidak ingin satupun dari kita untuk binasa. Dengan begitu indahnya Alkitab menuliskan firman Tuhan ini: "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yohanes 3:16). Oleh karenanya sukacita hadir di dalam diri kita, dan sebagai manusia tentu kita akan merayakannya melalui berbagai kegiatan yang diisi dengan kegembiraan. Pertanyaannya, apakah semangat Natal hanyalah berbicara atau berkaitan dengan pesta, tukar menukar kado, mendengar dan menyanyikan lagu-lagu Natal dari artis ternama? Jika itu yang menjadi gambaran bagi kita, maka itu tandanya kita belumlah sepenuhnya mengerti apa yang seharusnya menjadi semangat Natal yang sesungguhnya.

Natal adalah saat dimana kita merayakan kelahiran Yesus Kristus ke dunia. Seperti yang saya sebutkan di atas tadi, Natal ada karena kasih Tuhan yang begitu besar atas kita. Tuhan merelakan anakNya yang tunggal turun ke dunia ini, mengambil rupa sama seperti kita, menebus dosa-dosa kita semua agar kita tidak binasa, melainkan bisa memperoleh kehidupan yang kekal. Hubungan kita dengan Tuhan dipulihkan, sehingga hari ini kita bisa "dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia" (Ibrani 4:16), tinggal dan diam di dalam hadirat Tuhan. Ini sesuatu yang luar biasa yang bisa kita nikmati lewat penebusan Kristus. Mari kita lihat bagaimana briliannya Paulus menggambarkan hal ini dalam Filipi 2. "Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus" (Filipi 2:5). Pertama, lihatlah bahwa Yesus tidak menganggap bahwa kesetaraanNya dengan Allah harus dipertahankan. Yesus adalah Allah. Tapi meski demikian, "yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia." (ay 6-7) Yesus mengosongkan diriNya. Maknanya? Dia rela mengambil rupa seorang hamba dan dilahirkan seperti manusia. Kedua, Yesus mau merendahkan diriNya untuk taat sepenuhnya menjalankan misi yang digariskan Tuhan sampai kepada kematianNya di atas kayu salib. Semua dilakukan demi kita semua manusia. "Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib." (ay 8). Ini semua Dia lakukan karena kasih yang begitu besar kepada kita. Dan bagi kita manusia yang telah ditebus, sudah seharusnya kita meneladani apa yang telah diperbuat Kristus kepada sesama kita pula. We think the way He thinks, Tuhan Yesus memikirkan nasib manusia, karena itulah Natal ada. Jika Dia memikirkan nasib kita, tidakkah itu berarti bahwa kita pun harus merepresentasikan itu dengan mengasihi sesama kita juga?

Lewat pertobatan kita, kita meninggalkan kehidupan lama kita yang penuh cacat dan diperbaharui dalam roh dan pikiran kita dan menggantikannya dengan sebentuk hidup sebagai manusia baru yang telah sesuai kehendakNya dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya sesuai kehendak Tuhan. (Efesus 4:22-24). Be constantly renewed in the spirit of your mind. Roh kita sudah diperbaharui, maka pemikiran kita pun seharusnya mengikuti itu. Ironis sekali jika kita yang seharusnya sudah diubahkan menjadi manusia baru tapi masih juga belum bisa menanggalkan berbagai pemikiran-pemikiran lama, masih terpusat pada kepentingan dan hal-hal yang menyenangkan secara pribadi lalu tidak tergerak untuk memikirkan saudara-saudara kita lainnya yang tengah menghadapi pergumulan berat.

Di saat kita merancang berbagai kegiatan seperti pesta, liburan ke luar kota atau ke luar negeri atau bentuk-bentuk perayaan lainnya, ada banyak saudara kita yang mungkin makan sehari sekali saja masih sulit. Ada banyak yang tengah meratap memohon belas kasih akibat beratnya beban hidup. Ketika Yesus sudah melakukan itu semua lewat kedatanganNya ke dunia ini, sudahkah kita merepresentasikan semangat Kristus itu? Apakah kita mau merendahkan diri kita juga untuk berkorban, melayani dan membantu saudara-saudara kita yang sedang menderita? Itulah yang menjadi semangat Natal yang sesungguhnya. Memasuki Natal tahun ini, marilah kita lebih peka dan peduli lagi terhadap sesama kita. Tidak akan ada perayaan Natal jika Kristus tidak datang ke dunia untuk menebus kita. Dia telah mengosongkan diri, mengambil rupa seorang hamba dan taat sampai mati di kayu salib sehingga kita bisa menikmati hadirat Tuhan hari ini dan mendapat jaminan keselamatan dalam kehidupan kekal. Demikian pula seharusnya kita bersikap. Semangat Natal sesungguhnya adalah semangat yang meneladani Kristus, dimana kita mau meluangkan waktu, tenaga dan sebagian dari yang kita miliki untuk membantu sesama kita yang menderita. Mereka pun ada dalam kasih Tuhan, mereka pun terlukis dalam telapak tanganNya dan tergambar dalam ruang mataNya. Tuhan mengasihi mereka sama seperti Tuhan mengasihi kita. Dan jika Tuhan saja mengasihi mereka, kita pun sudah selayaknya mengasihi mereka juga. Membantu mereka yang kekurangan, membagi sukacita dan berkat kepada mereka, sehingga mereka bisa tersenyum dan dapat merayakan kelahiran Kristus bersama kita tanpa harus menangis lagi, itulah semangat Natal yang sesungguhnya. Mari masuki masa Natal dengan semangat Natal yang benar.

Portret semangat Natal sepantasnya tergambar dari kepedulian kita terhadap sesama