Tuesday, February 2, 2010

Kaki Rusa

Ayat bacaan: Mazmur 18:33-34
========================
"Allah, Dialah yang mengikat pinggangku dengan keperkasaan dan membuat jalanku rata; yang membuat kakiku seperti kaki rusa dan membuat aku berdiri di bukit"

kaki rusaSelagi mengajar, saya melihat gambar seekor rusa di halaman depan buku tulis salah seorang murid. Betapa anggunnya rusa itu. Berdiri di atas kaki-kaki yang lentik dan selalu siap melompat tinggi untuk mendaki gunung. Jalanan yang berbatu-batu bukan masalah bagi seekor rusa untuk bisa mencapai puncak bukit, dimana rusa akan jauh lebih aman dari kejaran binatang-binatang buas di tengah hutan. Rusa selalu digambarkan sebagai hewan yang manis dan baik, seperti di film kartun Bambi karya Walt Disney misalnya. Rusa termasuk hewan yang lemah dan selalu menjadi incaran predator-predator buas di hutan, namun kakinya kuat dan mampu meloncat jauh.

Kita berada dalam posisi yang sama. Sebagai manusia kita ini lemah dan rentan mendapat serangan dari segala sisi. Berbagai deraan masalah sering mengancam kita bagai binatang-binatang buas yang siap menerkam rusa. Jalan yang kita lalui dalam hidup pun seringkali tidak mulus. Jalan terjal, berliku dan berbatu-batu sangat melelahkan untuk dilewati. Seandainya kita punya kaki seperti rusa, kita tentu akan bisa lebih kuat dan lebih lincah untuk mendaki jalan berbatu untuk sampai dengan selamat di atas bukit. Dan seperti itulah janji Tuhan kepada kita.

Daud tahu Tuhan mampu memberikan kekuatan seperti itu. Lihat apa katanya: "Allah, Dialah yang mengikat pinggangku dengan keperkasaan dan membuat jalanku rata; yang membuat kakiku seperti kaki rusa dan membuat aku berdiri di bukit" (Mazmur 18:34). Ayat yang kurang lebih sama bisa kita dapati dalam kitab lainnya. "ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku." (Habakuk 3:19). Mengandalkan kemampuan kita yang terbatas, cepat atau lambat kita akan menyerah kalah oleh kesulitan-kesulitan hidup. Kita tidak akan mampu keluar dari beban persoalan jika hanya bergantung pada kemampuan diri sendiri. Tuhan tahu batas kemampuan kita. Ketika kita sendiri tidak mampu, Tuhan siap menjadi jawaban. Dia mampu membuat kaki-kaki kita lincah dan kuat seperti rusa untuk mampu melewati jalan berbatu dan terjal dan sampai di atas bukit. Tuhan siap membuat kita naik lebih tinggi di atas semua masalah dan keluar menjadi pemenang. Berada di tempat tinggi di atas bukit menggambarkan sebuah tempat di mana masalah tidak lagi mampu menyulitkan kita. Dalam Yesaya dikatakan di tempat tinggi itulah rumah Tuhan akan berdiri tegak, bukan terhuyung-huyung dan mudah jatuh ketika diterpa badai. "Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir: gunung tempat rumah TUHAN akan berdiri tegak di hulu gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit; segala bangsa akan berduyun-duyun ke sana, dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: "Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya, dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan firman TUHAN dari Yerusalem." (Yesaya 2:2-3). Rumah Tuhan, atau bait Allah, itu berbicara mengenai diri kita. (1 Korintus 3:16). Jadi apa yang dijanjikan Tuhan adalah sebuah pertolongan yang akan memampukan diri kita untuk meloncat dengan lincah melewati batu-batu masalah untuk sampai di atas bukit dan berdiri dengan tegak disana.

Untuk lepas dari masalah, naiklah ke tempat yang lebih tinggi. Terus latih kehidupan rohani kita agar semakin meningkat dan terus tumbuh. Teruslah menapak naik, terus kenali Tuhan lebih jauh dan lebih dekat lagi. Semakin tinggi kita berada, semakin sulit pula bagi masalah untuk menggoyahkan kita. Sungguh kita membutuhkan firman Tuhan agar kita mampu melangkah maju. Pemazmurpun menyadarinya dan berkata "Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku." (Mazmur 119:105). Di tempat tinggi kita berdiri tegak, tidak mudah terseret ke dalam hal-hal yang sifatnya duniawi, tidak mudah goyah meski digoyang masalah berat sekalipun. Di tempat itulah kita akan mampu mendirikan rumah Tuhan yang kokoh dan tahan terhadap goncangan apapun. Di tempat tinggi itu kita akan mampu berkata: "Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku." (Habakuk 3:17-18). Bergantung kepada kekuatan diri sendiri yang terbatas lambat laun kita tidak akan sanggup mendakit naik ke atas. Karena itu andalkanlah Tuhan. Dia siap menjadikan kaki kita seperti kaki rusa yang mampu naik hingga berdiri tegak di atas bukit.

Tuhan menyediakan kaki rusa yang akan mampu membuat kita berdiri tegak di atas bukit

Monday, February 1, 2010

Dengarkan Istrimu

Ayat bacaan: 1 Petrus 3:7
====================
"Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang."

mendengar istriBagi para suami yang sudah beristri, pernahkah anda merasa bahwa istri anda seakan-akan tidak peka terhadap kelelahan anda? Saya rasa semua suami pernah mengalaminya, sedikitnya berpikir seperti itu. Ada kalanya kita, para suami masih berhadapan dengan berbagai keluhan, permintaan atau persoalan-persoalan yang masih harus dibereskan. Kita ingin beristirahat setelah lelah bekerja seharian, tapi masih saja ada "tugas-tugas" tambahan dari pasangan kita. Mungkin kita merasa kesal karenanya, tidak jarang pula hal ini menjadi sumber perselisihan. Saya mengalami hal ini berkali-kali. Yang terbaru adalah ketika kami harus mengurus surat pindah untuk membuat KTP baru di alamat yang baru. Saya sudah bekerja dari pagi hingga larut malam, dan untuk mengurus surat pindah itu kami harus menempuh jarak yang jauh. Saya menganggap itu akan membuang waktu, namun meski kesal saya mengikuti anjurannya. Dan setelah urusannya selesai, saya sadar bahwa nasihat istri saya untuk mengurus KTP secepatnya itulah yang benar. Saya harus mengakui bahwa dia benar, dan saya yang salah. Biar bagaimanapun sebuah kartu keluarga dan KTP itu penting untuk diurus, meskipun melelahkan. Dan itu memang tugas saya sebagai suami. Lelah atau tidak, itu tanggung jawab saya.

Dalam banyak hal lain pun demikian. Saya sampai pada kesimpulan bahwa saya seharusnya bersyukur punya istri yang tanggap dan cakap, dan terus mengingatkan saya. Karena seperti urusan KTP tadi, seandainya semua itu hanya dipasrahkan kepada saya, maka saya tidak akan pernah bergerak untuk melakukannya. Sebagai manusia, memang kita punya banyak kelemahan dan sangat terbatas, sehingga sulit rasanya untuk menjadi sempurna tanpa kehadiran seorang pendamping. Ada kalanya kita harus diingatkan, ada kalanya kita harus dinasihati, ada kalanya kita harus ditegur, dan itu wajar. Dan sebuah rumah tangga akan berjalan dengan baik jika keduanya, suami dan istri, membuka diri sepenuhnya untuk saling mengingatkan.

Tuhan tahu hal itu sejak semula di awal proses penciptaan manusia. Lihatlah apa yang dikatakan Allah ketika melihat Adam. "TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." (Kejadian 2:18). Seorang penolong, yang sepadan. Itulah ide awal dari penciptaan wanita, yang secara istimewa dibuat dengan mengambil tulang rusuk pria. (ay 21). Seorang wanita diciptakan secara spesial bukan untuk direndahkan, bukan untuk diremehkan. Tidak lebih rendah dari pria, tidak pula hanya sebagai pelengkap penderita atau sebagai objek saja. Para suami Kristen seharusnya bisa memahami hakekat kehadiran wanita, dalam hal ini istri, dalam membina rumah tangganya.

Petrus berbicara lantang untuk mengingatkan kita para suami. "Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang." (1 Petrus 3:7). Kaum yang lebih lemah, itu seringkali dipakai para suami atau pria sebagai alasan untuk menindas istrinya. Menyepelekan, merendahkan, menganggap mereka hanya sebagai objek pelengkap yang tidak punya hak bersuara, karena toh mereka merupakan kaum yang lebih lemah. Itu bukanlah gambaran yang benar menurut firman Tuhan. Suami ada pada posisi mengasihi dan melindungi. Meski dikatakan kaum yang lebih lemah, bukan berarti wanita berada dalam posisi yang lebih rendah. Firman Tuhan pun jelas menggambarkannya sebagai sepadan. Para suami dituntut untuk hidup secara bijaksana bersama istri. Bagaimana mungkin kita mengaku bijaksana jika kita tidak mau mendengarkan suara istri kita? Bijaksana artinya kita harus memberikan kesempatan bagi mereka untuk menyampaikan pendapat, keluh kesah, unek-unek atau masukan, dan mau mempertimbangkannya, bahkan menuruti apabila apa yang mereka katakan itu membawa kebaikan untuk keluarga. Bijaksana artinya menyampingkan ego pribadi dan lebih mementingkan apa yang terbaik bagi kita dan keluarga. Jelas pula dikatakan selanjutnya bahwa kita harus menghormati istri kita sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan. Itu menyatakan dengan jelas betapa tinggi posisi wanita yang sebenarnya menurut kacamata Tuhan. Begitu tinggi, bahkan dikatakan doa pun bisa terhalang apabila kita mengenyampingkan hal ini dalam kehidupan berumah tangga.

Dalam Amsal dikatakan: "Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata." (Amsal 31:10). Seorang istri cakap itu lebih berharga dari permata, tetapi berapa banyak suami yang sadar bahwa mereka memiliki seseorang yang jauh lebih berharga dari permata di sisi mereka? Berapa banyak yang menganggap istri hanyalah sebagai objek pelengkap yang tidak berhak bersuara apa-apa? Bukankah sudah seharusnya sebuah penghargaan khusus layak kita berikan kepada para istri, yang sudah menjadi sosok penolong luar biasa dalam rumah tangga? Pesan Tuhan kepada para suami Kristen jelas. Kita harus bertindak bijaksana, mau mendengarkan mereka, mengasihi, menghargai dan melindungi, termasuk pula menghormati mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia. Hari ini, berikan ucapan terima kasih kepada mereka dan mungkin juga ungkapan maaf apabila kita masih kurang pantas memperlakukan mereka. Betapa hampanya hidup tanpa mereka, oleh karena itu bersyukurlah jika hari ini anda masih dikaruniai seorang istri yang luar biasa.

Istri bukan untuk ditindas tetapi dikasihi dan dihargai