Thursday, February 4, 2010

Menunggu

Ayat bacaan: Mazmur 70:2
====================
"Ya Allah, bersegeralah melepaskan aku, menolong aku, ya TUHAN!"

menanti, menunggu, mengantriMengantri. Sukakah anda mendengar kata ini? Rasanya jika boleh memilih, tidak ada orang yang betah mengantri. Sayangnya ada banyak urusan di dunia ini yang harus didahului dengan antrian. Kita sering kesal saat harus antri di depan ATM, ketika kita buru-buru ternyata orang di depan kita begitu lama berada di dalam. Jika di depan ATM saja sudah repot, apalagi ketika kita harus menunggu giliran dilayani di bank. Antrian bisa jauh lebih panjang dan prosesnya jauh lebih lama. Kita sering harus menunggu giliran di toilet umum, di depan loket, menunggu dipanggil ketika harus menemui customer service dan sebagainya. Bahkan di restoran pun kita sekarang sering harus mengantri terlebih dahulu. Memang mengantri termasuk hal yang melelahkan. Seandainya bisa, alangkah nyamannya jika kita tidak perlu menunggu terlalu lama ketika mengurus sesuatu, dan tidak harus membiarkan banyak waktu terbuang sia-sia.

Semua contoh antrian di atas sebenarnya baru proses menunggu yang ringan. Ringan? Ya, ringan, karena ada banyak penantian yang jauh lebih berat dari itu. Pasangan suami istri yang menunggu dikaruniai anak, orang-orang yang masih lajang menantikan pasangan hidupnya, menunggu sanak keluarga kita di rumah sakit menunjukkan tanda-tanda kesembuhan, atau menunggu kesembuhan diri kita sendiri, menanti datangnya vonis dokter, menunggu perubahan dari pasangan atau anak dari sikap tidak baik mereka dan lain-lain. Semua itu jauh lebih berat ketimbang sekedar mengantri biasa, dan seringkali terasa jauh lebih lama dari waktu normal. Seringkali sulit bagi kita untuk bersabar dalam menunggu, apalagi ketika kita dihadapkan pada masalah, berada dalam kesesakan, dan itu dirasakan hampir semua orang, termasuk Daud.

Pada suatu kali Daud berdoa demikian: "Ya Allah, bersegeralah melepaskan aku, menolong aku, ya TUHAN!" (Mazmur 70:2). Bukankah kita juga sering berdoa seperti ini? Kita berkata "Jangan tunggu lama-lama Tuhan, cepatlah tolong aku, aku sudah tidak tahan lagi.. bebaskan aku sekarang juga!" Tidak ada orang yang betah berhadapan dengan masalah. Semakin cepat selesai tentu semakin baik. Namun seringkali pertolongan Tuhan terasa lama, bahkan terkadang terasa terlambat. Karena ketidaksabaran, ada banyak orang percaya yang akhirnya terjebak pada alternatif-alternatif yang menjanjikan pertolongan cepat padahal itu adalah pilihan yang jahat di mata Tuhan dan mengarah kepada kebinasaan. Kesabaran sangatlah diperlukan, dan lebih dari sekedar sabar, iman yang percaya penuh kepada Tuhan sangat kita butuhkan. Dalam kehidupan sehari-hari kita butuh itu, apalagi ketika kita sedang mengalami persoalan.

Tuhan tidak pernah merencanakan sesuatu yang jelek buat kita. Apa yang direncanakan Tuhan selalu sesuatu yang indah pada waktunya. Namun keterbatasan kemampuan kita untuk mengetahui apa yang dirancang Tuhan bagi kita membuat kita tidak bisa mengerti mengapa waktu Tuhan sering tidak sejalan dengan waktu kita dalam memberi pertolongan. Dalam Pengkotbah kita baca "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir." (Pengkotbah 3:11). Dan Tuhan ternyata tahu benar akan hal ini. Dalam kesempatan lain kita temukan pesan dari Petrus mengenai waktu Tuhan ini. "Akan tetapi, saudara-saudaraku yang kekasih, yang satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu, bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari." (2 Petrus 3:8). Waktu Tuhan tidak sama dengan waktu kita. Itu pesannya. Dan lihat penekanan di awal ayat tersebut. "Yang satu ini tidak boleh kamu lupakan." Mengapa harus ada kata ini? Karena orang percaya sekalipun seringkali terjatuh dalam hal ini. Ketidaksabaran sering menjadi batu sandungan iman seseorang. Kecenderungan memaksakan waktu Tuhan untuk sesuai dengan hitungan waktu kita seringkali membuat kita kecewa dan bersungut-sungut, mengira Tuhan tidak peduli, lupa atau lalai. Petrus pun mengingatkan lagi: "Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat." (ay 9). Ya, Tuhan sesungguhnya tidak lalai. Dia tidak pernah lupa untuk menepati janjiNya. Apa yang Dia rindukan bagi setiap kita itu jelas. Dia tidak menghendaki satupun dari kita untuk binasa, melainkan agar kita mau berbalik kepadaNya dan bertobat. Waktu Tuhan tidak sama dengan waktu kita. Apa yang direncanakan Tuhan adalah segala sesuatu yang indah pada waktunya. Karena itu, bersabarlah. Jangan tergesa-gesa, jangan mendesak, tetapi tetaplah memegang janji Tuhan dengan iman yang kuat tanpa kehilangan harapan sedikit pun.

Tidak gampang memang untuk bersabar ditengah tekanan. Tapi jika Tuhan sudah menjanjikan yang terbaik, seharusnya kita bisa lebih tenang menghadapinya. Di saat-saat seperti itu kita bisa mengalami proses pembentukan diri kita untuk menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih tahan uji, lebih dewasa, dan di saat-saat sulit itulah kita bisa melatih diri kita untuk belajar mengandalkan Tuhan saja. Itu proses-proses berharga yang bisa tumbuh dalam diri kita jika kita menghadapinya bersama Tuhan, jika tetap sabar menanti datangnya pertolongan sesuai waktunya Tuhan dengan harapan dan kepercayaan penuh. Pada saat yang tepat, waktu yang terbaik, Tuhan akan menurunkan pertolonganNya dan segera mengangkat kita keluar dari pergumulan-pergumulan. Dia selalu siap untuk menempatkan kita dalam keadaan baik, meski mungkin saat ini kita sulit untuk bisa melihat atau mempercayai hal itu. Pada suatu saat nanti kita akan bisa bersukacita dan akan mengakui kebesaran Tuhan. Di saat itu kita akan bisa berkata seperti Daud:"Biarlah bergirang dan bersukacita karena Engkau semua orang yang mencari Engkau; biarlah mereka yang mencintai keselamatan dari pada-Mu selalu berkata: "Allah itu besar!" (Mazmur 70:5).

Jika anda berada dalam sebuah situasi sulit hari ini, jangan patah semangat. Jangan goyah, tapi tetaplah pegang janji Tuhan dengan iman penuh. Bagi yang tengah mengalami situasi sulit, firman Tuhan berkata: "Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!" (Roma 12:12). Ini langkah-langkah yang paling tepat untuk diambil sementara kita menunggu datangnya pertolongan Tuhan. Pastikan diri anda tetap berada di rel yang benar, dan pada saat yang tepat semua beban akan diangkat keluar dari diri anda. Penantian memang melelahkan, namun suatu hari nanti anda akan bersyukur pernah mengalami itu dan keluar sebagai pemenang bersama Tuhan. Tidak ada satupun masalah yang berada di atas kuasa Tuhan. Karena itulah Tuhan selalu menekankan pentingnya sikap yang selalu mengandalkan Tuhan dalam menghadapi situasi apapun. Be patient, because His help is surely on the way!

Waktunya Tuhan tidak sama dengan waktu kita, dan Dia tidak pernah lalai.Karena itu bersabarlah

Wednesday, February 3, 2010

Menghadapi Penolakan

Ayat bacaan: Lukas 13:33
=====================
"Tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem."

menghadapi penolakanAda seorang teman yang sudah berulang kali melamar pekerjaan tapi terus gagal. "Capai rasanya ditolak melulu", katanya getir. Mungkin banyak pula di antara teman-teman yang mengalami hal yang sama. Tidak hanya dalam melamar kerja, tapi dalam berbagai hal lainpun kita bisa berhadapan dengan penolakan. Misalnya dalam mendekati seseorang yang disukai, dalam lingkungan pertemanan, atau bahkan di keluarga. Bagi pengamen dan pengemis, masalah penolakan mungkin sudah menjadi hal yang biasa. Betapa seringnya mereka mendapatkan tangan yang menolak, atau bahkan tidak diacuhkan. Sales door to door atau sales yang menawarkan produknya di mal-mal pun pasti sering mengalami hal yang sama. Ada seorang yang saya kenal saat ini menjabat sebagai direktur sebuah perusahaan besar, tapi karirnya justru dimulai sebagai tukang bersih-bersih atau cleaning service. Dari pekerjaan itu ia kemudian menjadi salesman, mengetuk pintu dari rumah ke rumah dan terus mendapat penolakan. Tapi ia terus bekerja dengan gigih dan hari ini setelah ia sukses mencapai posisi tinggi, ia bersyukur bahwa berbagai penolakan yang ia alami dulu ternyata justru membentuk dirinya menjadi pribadi yang tangguh.

Kenalkah anda dengan nama Sylvester Stallone? Nama ini tentu tidak asing lagi bagi kita. Sosok pemeran John Rambo dan Rocky Balboa yang fenomenal ini merupakan sebuah nama yang akan sangat tepat jika kita lihat sebagai contoh mengenai penolakan. Ia terlahir dengan keterbatasan-keterbatasan fisik yang membuatnya mengalami banyak penolakan sepanjang hidupnya. Jika kita perhatikan, ia terdengar lucu ketika berbicara, dan posisi bibirnya pun tidak seperti orang pada umumnya ketika bicara. Berbagai keterbatasan itu membuatnya kerap ditolak ketika melamar untuk sebuah peran. Tapi ia tidak menyerah. Ketika ia membuat script film Rocky yang terkenal itu, ia pergi ke berbagai perusahaan film untuk menawarkan hasil karyanya. Tapi ia selalu mengalami penolakan. Mengapa? Karena ia tidak mau menjual script Rocky jika bukan ia sendiri yang memerankannya. Melihat dirinya yang banyak kekurangan apalagi tidak terkenal, maka produser-produser pun seperti janjian menolak dirinya. Setelah terus berjuang tanpa patah semangat, akhirnya ada produser yang tertarik, dan ia pun diijinkan untuk memerankan tokoh ciptaanya ini. Film Rocky mencapai sukses besar, meraih piala Oscar, fenomenal dan sangat dikenal orang hingga hari ini. Jika saja Stallone tipe orang yang gampang menyerah, kita tidak akan mengenal nama dan tokoh-tokoh yang diperankannya seperti Rocky atau Rambo.

Siapapun yang hidup di dunia ini pasti pernah merasakan bagaimana tidak enaknya mengalami penolakan. Ketika Tuhan Yesus datang ke dunia Dia pun pernah merasakannya. Bukan hanya satu dua kali tapi sering. Lihat saja ketika ada yang berniat menjatuhkan Yesus dari atas tebing (Lukas 4:29), mendapat ancaman akan dibunuh oleh Herodes jika masih bersikeras memasuki Yerusalem (13:31). Dalam kesempatan lain kita tahu pula bahwa Yesus pernah menghadapi persekongkolan orang Farisi yang merasa gerah menghadapi sepak terjang Yesus. Mereka berusaha mencobai (Matius 16:1) bahkan mencoba membunuhNya. (3:6). Orang-orang yang berseru "Hosana! Hosana!" (Markus 11:7-10) adalah orang-orang yang sama mengucapkan "salibkan Dia! salibkan Dia!" (15:12-14). Jika kita mengalami hal ini mungkin kita akan merasa kecil hati, merasa kecewa dan sakit hati, dendam atau kehilangan pegangan. Tapi tidak bagi Yesus. Yesus terus melakukan pelayanan dengan semangat pantang mundur. Mengapa bisa seperti itu? Karena Yesus tahu tujuanNya turun ke dunia. Dia turun bukan untuk mencari pengakuan atau penghormatan dari manusia, melainkan untuk menyelesaikan kehendak Bapa yang mengutusNya."Tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem." (Lukas 13:33). Itu fokus Yesus sesuai dengan tugas yang diembanNya seperti yang dikehendaki Bapa. Oleh karena itulah Yesus tidak surut walau mendapat berbagai penolakan bahkan ancaman pembunuhan sekalipun, karena fokusnya jelas, melakukan kehendak Bapa dan bukan tergantung dari respon manusia.

Berbagai penolakan pernah kita alami dan akan terus terjadi. Jagalah agar berbagai penolakan jangan sampai membuat kita patah semangat dan hancur berantakan dalam kegagalan. Justru penolakan-penolakan itu seharusnya mampu menjadi stimulus atau penyemangat, dan pembelajaran bagi kita agar kita bisa tumbuh lebih kuat dalam berjuang mencapai tujuan. Jika orang yang saya gambarkan di awal renungan ini cepat menyerah, ia tidak akan bisa sukses seperti sekarang. Jika Stallone gampang putus asa dan merasa hancur melihat keterbatasannya, ia tidak akan bisa menjadi tenar seperti sekarang. Jika Yesus menyerah saat mendapat tekanan-tekanan berat, hari ini kita tidak akan mengalami hidup dalam jaminan keselamatan dan bisa merasakan hadirat Tuhan yang begitu indah. Penolakan akan selalu terjadi kapan saja, tapi jangan pernah menyerah. Tetaplah bersukacita dalam keadaan apapun, sebab sukacita sejati bukan berasal dari manusia atau keadaan di dunia, melainkan berasal dari Tuhan. "Ya, karena Dia hati kita bersukacita, sebab kepada nama-Nya yang kudus kita percaya." (Mazmur 33:21). Sukacita sejati yang berasal dari Tuhan sesungguhnya jauh berada di atas segala permasalahan, penolakan dan orang-orang yang mengecewakan kita. Fokuslah kepada rencana Tuhan bagi hidup anda, dan pakailah pengalaman tertolak itu sebagai batu loncatan untuk sebuah kesuksesan.

Ditolak boleh saja, tapi jangan biarkan sukacita kita hilang karenanya