Friday, April 2, 2010

Sudah Selesai

Ayat bacaan: Yohanes 19:30
=======================
"Sudah selesai."

sudah selesai, pengorbanan YesusAda banyak film yang menggambarkan perjalanan kehidupan Yesus di muka bumi dalam berbagai versi. Mulai dari versi tahun 1961 berjudul King of Kings yang dibintangi dengan sangat baik oleh Jeffrey Hunter, hingga versi-versi lain yang terkadang tidak lagi memfokuskan diri kepada misi Yesus untuk turun ke dunia tetapi lebih kepada pemilihan sosok yang ganteng, bermata biru dan sebagainya. Bahkan ada pula yang 'nyeleneh' dalam artian berdasarkan interpretasi sendiri dan tidak mengacu kepada alkitab. Sebuah terobosan baru diambil oleh Mel Gibson yang menimbulkan pro dan kontra. "The Passion of the Christ", itu judulnya, memfokuskan diri kepada beberapa jam terakhir kehadiran Yesus di muka bumi ini. Di film itu dipertontonkan berbagai siksaan yang jelas di luar batas kemanusiaan, yang akan membuat kita bergidik ngeri, bahkan tidak lagi sanggup melihat filmnya. Visualisasi detail yang mengerikan itu membuat banyak orang menangis dan tercekam kengerian hingga tidak lagi berani menonton untuk kedua kalinya. Jika adegan yang terlihat itu seram, begitulah adanya. Fakta sejarah membuktikan bahwa bentuk cambuk yang dipakai Romawi pada saat itu memiliki cabang-cabang pada ujungnya yang biasanya diberi bulatan keras atau paku kecil, yang jika dilecutkan ke badan seseorang akan mencabik-cabik dagingnya. Lalu salib dari kayu yang sangat berat? Itupun benar. Bahkan aktor pemeran Yesus saja sempat mengalami pergeseran sendi bahu ketika memanggul salib yang konon katanya memiliki berat kurang lebih sama dengan salib yang saat itu digotong Yesus.

Rangkaian proses mengerikan seperti itu harus dilalui oleh Yesus demi memenuhi rangkaian kehendak Bapa. Demi siapa? Demi kita, manusia-manusia yang sudah terlalu penuh berlumur dosa. Seharusnya kitalah yang menerima itu semua, namun Yesuslah yang menggantikan kita semua dan menebus lunas dosa kita semua dengan pengorbananNya. Semua berawal dari kasih yang begitu besar, yang ternyata sanggup menggerakkan hati Bapa untuk melepaskan kita semua. Ayat yang menyatakannya berbunyi begitu indah. "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yohanes 3:16).

Apakah Yesus tahu bagaimana mengerikannya apa yang harus Dia lalui? Tentu saja. Bahkan dalam fisik manusianya Yesus sempat merasa ngeri. Tetapi ketaatan dan kasihNya yang besar bagi kita akhirnya sanggup membuat Yesus rela menyerahkan semua ke dalam tangan Bapa. "Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki." (Matius 26:39). Yesus sangat mengasihi kita, dan Dia tahu betul bagaimana besarnya kasih Bapa kepada kita, dan untuk itu Dia mau melalui serangkaian proses mengerikan demi menggenapkan karya keselamatan sesuai kehendak Bapa yang diberikan bagi semua orang. Nubuatan lengkap mengenai kehidupan dan misi Yesus ketika di dunia pun sudah dinubuatkan oleh Yesaya (Bacalah Yesaya 52:13-53:12). Lihatlah cuplikan dari perikop ini."Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian." (Yesaya 53:5-6). All because of God's love to us.

Dan itulah tepatnya apa yang dilakukan Yesus. Dia mengambil alih semuanya dan menggenapi kehendak Allah secara sempurna. Jeritan nyaring sempat terdengar dari kayu salib, "Eli, Eli, lama sabakhtani?" Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" (Matius 27:46), sebuah jeritan yang menggambarkan rasa kesepian yang luar biasa. Yesus tengah terpaku di atas kayu salib, all alone, seorang diri, menanggung beratnya dosa begitu banyak manusia. Begitu beratnya tumpukan dosa itu sampai-sampai Bapa pun memalingkan muka. Lalu pada akhirnya sebuah seruan nyaring berikutnya hadir tepat sebelum Yesus menghembuskan nafasNya yang penghabisan. (ay 50). Apa yang diserukan Yesus ini tidak ditulis dalam Injil Matius, tetapi tertulis jelas dalam Injil Yohanes. Apa yang dikatakan Yesus pada saat terakhir itu adalah: "Sudah selesai."  (Yohanes 19:30).

Sudah selesai. Ya, selesai sudah penggenapan keinginan Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia dari kebinasaan, dan memindahkan ke dalam keselamatan yang kekal. Sebuah karya penyelamatan yang luar biasa bagi umat manusia telah diselesaikan secara sempurna oleh Yesus. Penulis Ibrani mengatakan "Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi, demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia." (Ibrani 9:27-28). Satu untuk semua, dan berlaku selamanya. Cukup satu kali saja Yesus hadir di dunia sebagai korban untuk menghapus dosa-dosa kita. Nanti Dia akan datang untuk kedua kalinya, tetapi bukan lagi untuk menyelesaikan persoalan dosa, karena semua itu "sudah selesai" Dia lakukan, melainkan untuk menjemput kita, orang-orang yang telah taat dan setia mengasihiNya, dan menghargai apa yang telah Dia lakukan dengan tetap hidup kudus tiada bercela. Dalam Yohanes 14:1-3 dikatakan bahwa Yesus akan kembali membawa kita ke tempatNya. "Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada."

Malam ini marilah kita ambil waktu khusus untuk mengucap syukur dan berterimakasih dengan setulus hati atas segala pengorbanan Kristus di atas kayu salib demi kita semua. Jika hari ini kita bisa mendatangi tahta Allah yang suci dan kudus tanpa rasa takut, jika kita bisa mendengar suaraNya dan merasakan hadiratNya saat ini, semua itu adalah buah dari karya penebusan Kristus. Itulah karunia kasih terbesar, there's no greater love than this. Yesus, Sang Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia telah menyelesaikan rangkaian kehendak Bapa dengan tuntas dan sempurna, sehingga kita yang seharusnya binasa kini telah dianugerahkan keselamatan kekal. Mari kita syukuri betul, dan selanjutnya memastikan agar jangan sampai semua pengorbanan Kristus itu menjadi sia-sia atas diri kita. Hiduplah kudus, setialah kepadaNya dan wujudkan kasihNya secara nyata dengan peran aktif kita menyampaikan kasih Tuhan kepada saudara-saudara kita lainnya.

"..oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh"

Thursday, April 1, 2010

The Power of Rejoicing

Ayat bacaan: Nehemia 8:11b
========================
"Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!"

Kebanyakan manusia mengasosiasikan sukacita sebagai suatu perasaan dimana tidak ada penderitaan atau permasalahan yang sedang menimpa mereka. Artinya, sukacita seringkali dihubungkan dengan kondisi atau keadaan yang sedang dialami. Jika sedang menghadapi persoalan, itu tandanya sukacita pun harus dihilangkan sejenak dari hidup kita, setidaknya hingga situasi bisa menunjukkan perubahan terlebih dahulu. Sebab bagaimana mungkin bersukacita jika sedang dalam keadaan tersesak? Bukankah itu tidak mungkin? Itu pandangan sebagian besar dari kita. Sebenarnya sebuah sukacita bukanlah seperti itu. Sukacita sesungguhnya tidak tergantung dari apa yang sedang kita alami atau rasakan. Bagaimana bisa demikian? Sebab sukacita yang sesungguhnya itu seharusnya berasal dari Tuhan dan tidak boleh tergantung dari manusia, situasi, kondisi atau keadaan apapun.

Firman Tuhan datang lewat Nehemia: "Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!" (Nehemia 8:11b). Sukacita karena Tuhan, itulah yang menjadi perlindungan kita. Artinya tidak saja sukacita itu tidak tergantung dari keadaan atau kondisi yang tengah kita hadapi, tetapi seharusnya sukacita itu pun bisa memberikan sebuah kekuatan tertentu untuk bisa bertahan bahkan menjadikan kita keluar sebagai pemenang ditengah kesesakan apapun. The power of joy, the power of rejoicing, itu bisa dimungkinkan karena sukacita itu berasal dari Tuhan.

Mari kita lihat bagaimana Paulus mengaplikasikan sebentuk sukacita ini dalam perjalanan pelayanannya. Setelah bertobat, hidup Paulus bukanlah menjadi lebih gampang. Justru setelah itu ia mengalami berbagai tekanan, siksaan, deraan bahkan ancaman yang setiap saat bisa menamatkan nyawanya. Tapi apakah Paulus menyesal mengambil jalan bertobat? Tidak. Ia terus konsisten dalam mewartakan firman Tuhan kemanapun ia pergi, apapun taruhannya. Bukan itu saja, sukacita pun dengan jelas tetap menyertainya. Lihat apa katanya: "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! ... Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus." (Filipi 4:4,6-7). Dan dengan tegas ia juga menyatakan "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku." (ay 13). Inilah bentuk iman Paulus yang tahu betul bagaimana pentingnya memiliki sukacita yang berasal dari Tuhan, yang mampu memberikannya kekuatan dalam menghadapi berbagai masalah dalam pelayanannya. Berada dalam penjara? Paulus tidak patah semangat. Dia tidak menganggap penjara sebagai sebuah halangan, kendala atau kerugian, tapi justru sebagai kesempatan atau keuntungan baginya. Ia mempergunakan ruang penjaranya bukan sebagai tempat untuk meratapi nasib, tapi mengubahnya sebagai pusat penginjilannya. Banyak surat ia tuliskan berasal dari dalam penjara. Ia terus membagi sukacita kerajaan Allah dan tips-tips kehidupan yang penuh kemenangan seperti apa yang ia alami. Sebuah sukacita yang berasal dari Tuhan tidak terpengaruh oleh keadaan sekitar. Semua itu sesungguhnya adalah sebuah pilihan bagi kita. Apakah kita mau membiarkan diri kita dikuasai masalah dan kemudian kehilangan sukacita, atau kita mau memakai sukacita ini sebagai kekuatan yang memampukan kita menghadapi badai apapun dengan tegar.

Apa yang terjadi saat ini menekan hidup kita? Apa yang kita alami rasanya sungguh tidak adil? Permasalahan terus timbul dan membuat kita kesulitan? Paulus menanggapinya seperti ini: "Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita." (Filipi 1:18b). Seperti itu pula hendaknya prinsip hidup kita. Jangan sampai kita menyerah dikalahkan oleh masalah, jangan sampai pula berbagai tekanan hidup itu menjadi jalan masuk bagi iblis untuk merampas kemenangan kita. Pergunakanlah the power of rejoicing dari Tuhan sebagai kekuatan yang memampukan anda menghadapi semuanya dengan tegar. Dengan adanya sukacita Kerajaan Allah dalam hidup kita, maka kita bisa bebas dari kekhawatiran, kecemasan dan ketakutan. Masalah boleh hadir, tapi sukacita harus tetap tinggal di dalam diri kita, sebab sukacita karena Tuhan, itulah perlindunganmu!

Sukacita yang berasal dari Tuhan tidak akan terpengaruh oleh situasi dan kondisi yang kita hadapi