Wednesday, June 2, 2010

Christian The Lion

Ayat bacaan: 1 Korintus 13:8
=====================
"Love never fails" (Amplified Bible)

christian the lionSebuah kisah nyata mengenai persahabatan antara manusia dengan singa 40 tahun yang lalu di London kembali beredar di youtube dan menyentuh perasaan banyak orang. Kisah ini bermula pada suatu hari di tahun 1969 ketika dua orang teman John dan Ace melihat seekor anak singa dijual di Harrods, sedang tergeletak kesepian di dalam sebuah kandang berukuran kecil. Mereka pun membeli anak singa itu. Anak singa yang sehari-hari bermain di halaman gereja itu diberi nama Christian. Ketika Christian tumbuh semakin besar, pekarangan gereja tidak lagi dapat menampungnya. Kota London jelas bukan habitat yang baik bagi kehidupannya. Dengan berat hati John dan Ace kemudian merelakan Christian untuk tinggal di Afrika agar ia bisa bertumbuh dalam habitat yang sebenarnya di alam bebas. Setelah setahun berjalan, kerinduan kedua sahabat ini akan Christian membuat mereka ingin mengunjunginya lagi ke Afrika. Ternyata di sana Christian sudah tumbuh menjadi pemimpin kelompoknya dan dikatakan sudah berubah menjadi singa liar. Tetapi rasa rindu mereka ternyata jauh melebihi rasa takut. Mereka pun memutuskan untuk pergi ke Afrika dan menjumpai Christian. Apa yang terjadi ketika mereka bertemu? Ternyata Christian masih mengingat mereka! Christian segera berlari menghampiri dan memeluk mereka. Anda bisa melihat videonya di bawah renungan hari ini. Suasananya begitu mengharukan. Sebuah reuni antara dua manusia dan seekor singa yang sangat menyentuh, sebuah demonstrasi akan betapa luar biasanya kasih yang tumbuh melebihi batas-batas normal. Tidak hanya menyambut dengan mesra, Christian juga kemudian memperkenalkan istrinya kepada John dan Ace. Kisah nyata yang saya angkat hari ini yang juga bisa anda lihat langsung dalam video di bawah adalah sebuah bukti nyata akan kasih, sebuah anugerah luar biasa yang diberikan Tuhan bukan saja kepada manusia ciptaanNya yang istimewa, tetapi juga ternyata diberikan kepada ciptaan-ciptaanNya yang lain, termasuk hewan yang terkenal buas seperti singa.

Yohanes dengan tegas menyatakan bahwa "Allah adalah kasih." (1 Yohanes 4:8). God is love. God is all about love. Ini sebuah pendeskripsian yang tepat menuju sasaran. Ada banyak orang yang beranggapan bahwa Tuhan itu kejam, pilih kasih, tidak peduli atau terlalu lambat bertindak ketika mereka tengah berhadapan dengan kesulitan. Tetapi Yohanes menegaskan bahwa Tuhan bukanlah seperti apa yang mereka pikirkan. God is love. Dan itu bisa terlihat dari ciptaanNya. Bukan hanya manusia yang diberikan kasih sebagai sebuah anugerah yang sangat indah, tetapi hewan-hewan yang notabene ciptaan Tuhan juga, mereka pun ternyata memiliki kasih sayang. Lewat ciptaan-ciptaanNya kita bisa melihat sendiri cerminan Tuhan sebagai kasih ini, bahkan lewat seekor singa yang seharusnya buas dan liar sekalipun. Atau cobalah bayangkan jika anda duduk dengan seseorang yang anda cintai di sebuah taman yang indah, penuh bunga berwarna warni berkarpet rumput hijau dan beratapkan langit biru cerah, tidakkah anda segera merasakan rasa cinta yang begitu kuat? Tuhan adalah kasih, dan lewat ciptaan-ciptaanNya kita bisa merasakan sendiri bukti dari pernyataan itu.

Jika seekor singa saja bisa memiliki kasih, alangkah ironis jika kita sebagai manusia, ciptaan Tuhan yang istimewa, justru tidak memilikinya. Manusia seringkali menjadi predator bagi sesamanya, dengan tega mengorbankan orang lain demi kepentingan dirinya sendiri atau sekedar tidak peduli terhadap kesulitan orang lain, bahkan temannya sendiri. Sementara hewan-hewan yang buas sekalipun ternyata masih bisa menyatakan kasih, banyak manusia ternyata gagal untuk mencerminkan hal itu. Dan dengan tegas Yohanes menyatakan bahwa "barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih." (1 Yohanes 4:8).

Paulus pun menggambarkan penting dan begitu istimewanya kasih dalam banyak kesempatan. Misalnya dalam 1 Korintus 13:1-13, kita bisa melihat bagaimana Paulus memberi gambaran lengkap mengenai kasih ini. "Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing." (ay 1). Menguasai banyak bahasa di dunia? Bahkan bahasa malaikat sekalipun? Tanpa kasih semua itu tidaklah ada apa-apanya, bagaikan gong dan canang yang hanya berbunyi tanpa bermakna apa-apa. Ia melanjutkan "Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna." (ay 2). Memiliki banyak karunia? Mengerti banyak mengenai rahasia-rahasia Kerajaan Allah? Tahu segalanya? Bahkan punya iman yang sanggup memindahkan gunung? Tanpa kasih, semua itu tidaklah ada gunanya. Lalu ia mengatakan "Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku." (ay 3). Suka amal? Rajin menyumbang untuk gereja? Memberi persepuluhan dalam jumlah yang sangat besar? Atau bahkan rela mati demi agama yang dianut? Semua itu tidaklah ada manfaatnya sama sekali apabila tidak didasari oleh kasih. Banyak orang mengira bahwa jika kita semakin banyak memberi sumbangan maka itu artinya kasih pun semakin besar. Padahal kita tahu ada begitu banyak motif dibalik sebuah gerakan amal atau pemberian. Dan apabila apa yang kita beri itu bukan berdasarkan kasih, maka sia-sialah semua itu.

Kasih memang tidak main-main besarnya. Bahkan kasih inilah yang mampu menggerakkan hati Tuhan untuk melakukan misi penyelamatan umat manusia hingga rela mengorbankan Anaknya sendiri, Yesus Kristus untuk mati demi kita semua. Begitulah besarnya dampak sebuah kasih. Maka Paulus pun kemudian menyimpulkannya seperti ini: "Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap...Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih." (1 Korintus 13:8,13). Lihatlah bahwa kasih merupakan elemen yang paling besar dan terpenting di antara yang lain. Mengapa? Sebab Allah sendiri adalah kasih. Kata "kasih tidak berkesudahan" dalam ayat 8 di atas dalam versi Amplified Bible diterjemahkan dengan sangat indah: "Love never fails." Kasih tidak akan pernah gagal untuk menghasilkan perubahan-peruahan dalam kehidupan kita untuk menuju fase yang semakin baik dari hari ke hari.

Dari kisah Christian the Lion di atas kita juga bisa melihat bukti bahwa cinta bisa menembus dan mendobrak sekat-sekat pembatas. Lihatlah bagaimana kasih ternyata mampu tumbuh antara seekor singa dan dua orang manusia. Love knows no limit. Dan jangan lupa pula bahwa sebuah ikatan persahabatan yang tulus dan sejati akan mampu bertahan selamanya. A true friendship last a lifetime. Apa yang kita baca dan lihat dari kisah nyata seekor singa bernama Christian ini hendaknya mampu membuka mata kita akan besarnya nilai sebuah kasih sebagai sesuatu yang merepresentasikan Tuhan sendiri. Sudahkah anda menyatakan kasih hari ini kepada orang lain? Sudahkah anda menunjukkan kasih lewat tindakan-tindakan nyata atau anda masih melupakan teman-teman anda yang terdekat sekalipun? Get back in touch with someone today, and spread the love. You'll be glad you did.

Singa yang buas saja ternyata memiliki kasih, alangkah ironis apabila kita tidak memilikinya

Video Christian the Lion



Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, June 1, 2010

Logan, the Sky Angel Cowboy

Ayat bacaan: Roma 8:32
===================
"Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?"

loganSudahkah anda mendengar kisah mengharukan yang memberkati jutaan orang di seluruh penjuru dunia yang dikenal dengan judul "Logan, the Sky Angel Cowboy" yang beredar di youtube sejak beberapa waktu lalu? Kisah itu mengenai seorang bocah berusia 13 tahun bernama Logan yang tinggal di peternakan di Nebraska. Pada suatu hari seekor anak sapi kesayangannya mengalami patah punggung. Anak sapi itu lahir dari induk yang sudah sangat tua, sehingga ia tidak mendapat nutrisi yang cukup dari ibunya. Akibatnya kondisinya lemah, hingga insiden patah tulang punggung itu pun terjadi. Perasaan Logan sangat sedih melihat kondisi anak sapi yang sangat ia sayangi. Anak sapi itu tentu sangat menderita dengan keadaannya, maka Logan pun akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidup si anak sapi itu, dan itu ia lakukan sendiri. Bisa dibayangkan betapa hancurnya perasaan Logan harus mengalami ini semua. Dalam kepedihan dan hancur hatinya ia pun berkata kepada Tuhan, "Mengapa ini harus terjadi, Tuhan? Engkau tahu anak sapi itu begitu istimewa bagiku.." Dan lihatlah ternyata Tuhan menjawabnya! Demikian jawab Tuhan "You know Logan, My Son was special..but He died for a purpose." Logan pun langsung menyadari bahwa perasaan hancurnya sama dengan apa yang dirasakan Tuhan pula dengan menyerahkan Kristus bagi kita. Logan berkata "it's kinda the same thing, the calf was close to me, and God's Son was close to Him." Percakapan ini terekam dalam sebuah siaran radio dimana Logan menceritakan sendiri pengalamannya, lalu kisah ini pun segera merebak dalam waktu singkat. Ada jutaan orang lalu menangis dan diberkati lewat kisah Logan ini. Anda bisa mendengarnya langsung lewat youtube yang sudah saya sediakan dibawah.

Sebagai manusia kita seringkali lupa akan perasaan Tuhan ketika merasa kehilangan. Kita merasa Tuhan tidak adil dengan mengambil orang yang kita sayangi untuk kembali kepadaNya, kita juga merasa diperlakukan semena-mena ketika kita masuk ke dalam masalah. Lewat kisah Logan kita bisa kembali diingatkan bahwa Tuhan tahu betul bagaimana perasaan kita. Dia tahu bagaimana hancurnya hati kita. Mengapa? Karena Dia sendiri pun mengalaminya. Tuhan merelakan AnakNya yang tunggal, AnakNya yang istimewa, yang sangat Dia kasihi untuk turun ke dunia, bukan dalam wujud seharusnya tetapi justru "..mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib." (Filipi 2:7-8). Pernahkah kita menyadari bagaimana hancurnya perasaan Tuhan mengorbankan AnakNya sendiri demi kita? Tapi itu Dia lakukan, karena kita semua telah gagal mencapai tingkat kesempurnaan yang Dia inginkan dan terus terperangkap dalam dosa. "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah." (Roma 3:23). Kasih yang begitu besar akhirnya mampu menggerakkan Tuhan untuk melakukan sesuatu, apapun harganya, termasuk mengorbankan Kristus, AnakNya sendiri untuk mati demi kita. Itu sebuah pengorbanan yang begitu besar, yang sayangnya seringkali kita lupakan. Cobalah taruh diri kita di posisi Tuhan, apa yang akan kita rasakan jika kita harus mengorbankan anak kita sendiri demi orang lain? Rasanya kita tidak akan sanggup, tapi Tuhan SUDAH melakukannya.

Karena itulah Tuhan tahu betul bagaimana rasanya mengalami perasaan yang hancur. Dia mengerti, Dia peduli. Dia tahu bagaimana perihnya setiap tetes air mata yang kita keluarkan, dan Dia siap untuk memberi kelegaan lewat kasihNya yang lembut. Pada suatu kali Tuhan mengatakan demikian terhadap bangsa Israel yang tengah menderita sebagai bangsa jajahan di tanah Mesir. "Dan TUHAN berfirman: "Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka." (Keluaran 3:7). Kita bisa melihat bagaimana pedulinya Tuhan dengan rasa belas kasihanNya atas penderitaan kita. "Aku tahu penderitaan mereka." kata Tuhan. Dan Tuhan tidak berhenti hanya sebatas perasaan saja, tapi Dia pun mau bergerak untuk melakukan sesuatu. Tuhan tidak diam berpangku tangan melihat penderitaan kita, Dia siap berbuat apapun demi kita, termasuk menganugerahkan AnakNya sendiri untuk menebus kita. Jika demikian, mengapa kita harus ragu akan besarnya kasih Tuhan pada kita? Mengapa kita harus terus menyalahkanNya, menuduhNya dan menganggap Dia tidak mau tahu atas penderitaan kita? Dia tahu betul bagaimana rasanya kehilangan, karena Dia sendiri sudah mengalaminya. Maka Paulus pun menyitir hal ini untuk kembali mengingatkan kita. "Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?" (Roma 8:32). Jika AnakNya saja Dia berikan, mengapa kita harus ragu mengenai hal-hal lainnya? Mengapa kita harus ragu apakah Tuhan peduli atau tidak? Dia sangat mengerti bagaimana rasaNya. Dia turut bersedih bersama kita, dan Dia siap meringankan rasa kehilangan kita.

Kembali ke kisah di atas, Logan menutup sharingnya dengan mengatakan "I just wanted to tell you guys that it's so important. Just remember when you lose a loved one or a pet, always remember that God gave His Son too.. and He understands. He will always, just run to Him." Iman yang begitu besar dari Logan, membuatnya bisa jauh lebih bijaksana dari kita yang berusia jauh di atasnya. Logan mengingatkan bahwa pada saat kita merasa kehilangan, ingatlah selalu akan Tuhan yang juga merasakan hal yang sama dengan memberi AnakNya sendiri. Tuhan selalu mengerti, kata Logan. Karenanya datanglah kepadaNya maka Dia akan segera memberi kelegaan. Logan sungguh benar, karena Tuhan memang mengundang kita semua yang tengah berduka untuk datang kepadaNya. "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu." (Matius 11:28). Tuhan siap untuk memberi kelegaan, "Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka" (Mazmur 147:3).

Kita akan lebih mengetahui rasanya sakit jika kita sudah mengalami sendiri, dan demikian pula halnya dengan Tuhan. Tuhan tahu bagaimana terlukanya perasaan kita ketika kehilangan karena Dia sudah mengalaminya juga. Jesus died for a purpose, so did Logan's calf. Dari apa yang dialaminya ternyata Logan kemudian memberkati jutaan orang di seluruh dunia. Ada banyak orang yang kemudian bertobat dan menyadari betapa jauhnya mereka selama ini dari pengertiaan dan ketaatan akan Tuhan. Semua itu tidaklah sia-sia. Jika ada diantara teman-teman yang baru saja kehilangan seseorang yang sangat anda sayangi, ingatlah pesan Logan ini. Datanglah kepada Tuhan, curahkan perasaan anda kepadaNya dan rasakan bagaimana Tuhan menyembuhkan dan membalut luka perasaan anda dengan lemah lembut.

He understands how it feels because He has done it Himself



Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho