From: D. Adhi Surya
Ayat Bacaan: Amsal 30:7-9
======================
“Dua hal aku mohon kepada-Mu, jangan itu Kautolak sebelum aku mati, yakni: Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.”
Ulang tahun adalah moment yang paling special dan membahagiakan bagi kita semua. Tidak ada di antara kita yang tidak menanti-nantikan hari “H” ulang tahun kita. Setiap kita pasti merindukan moment hari “H” ulang tahun itu tiba. Kita mengharap-harapkan banyak hal penting di hari ulang tahun kita. Dan kita juga mengharapkan hari-hari yang lebih baik di tahun ulang tahun mendatang.
Ketika kita kecil, kita menantikan hari “H” ulang tahun kita seperti orang yang “sakit rindu,” yang menantikan moment hari “H” itu tiba. Kita menantikan hari “H” ulang tahun sewaktu anak-anak karena kita mengharapkan pada hari “H” itu ada hadiah mainan yang sudah menjadi impian kita sejak lama. Atau bagi yang anak perempuan mungkin boneka kesayangan.
Ketika kita beranjak dewasa, penantian akan hari “H” ulang tahun tetap menjadi hal yang menggebu-gebu dan yang menyenangkan. Walaupun kali ini harapan kita bukan pada mainan atau boneka impian. Melainkan mungkin pada ucapan selamat atau perhatian dari kawan-kawan lama semasa kecil kita yang saat ini mungkin sudah terpisah jarak dengan kita. Ucapan selamat atau perhatian mereka menjadi “hadiah” yang sangat berarti bagi kita yang sudah beranjak dewasa. Kita merasa diperhatikan dan diingat oleh mereka. Kehadiran kita di dalam hidup mereka berarti begitu membekas dan memberikan kesan yang indah.
Baik ketika kita kecil maupun ketika kita dewasa, moment ulang tahun merupakan moment yang indah dan yang selalu kita nantikan. Selain itu, di moment hari “H” ulang tahun kita biasanya diajukan pertanyaan: “Apa yang mau didoain di hari ulang tahun ini?” atau pertanyaan: “Apa yang jadi harapan kamu di hari ulang tahun, tahun ini?” dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang intinya adalah menanyakan tentang HARAPAN. Nah, biasanya jawaban kita terhadap pertanyaan di atas adalah: “Ya, doain aja deh supaya aku diberi rejeki, tubuh yang sehat dan umur yang panjang!”
Rejeki, tubuh yang sehat dan umur yang panjang memang menjadi permintaan umum (atau setidaknya harapan) setiap kita di hari “H” ulang tahun. Ketiga permintaan (atau harapan) di atas memang tidak salah. Akan tetapi permintaan kita di atas jika kita renungkan tidaklah jauh berbeda dengan permintaan mereka yang belum percaya kepada Tuhan. Bukankah mereka juga memintakan yang sama: rejeki, tubuh yang sehat dan umur yang panjang? Lalu apakah yang seharusnya menjadi perbedaan antara kita (orang yang sudah percaya) dengan mereka (yang belum percaya)?
Agur bin Yake di dalam Amsalnya ini mengajarkan kita satu prinsip yang menarik tentang arti hidup. Agur bin Yake tidak memohonkan rejeki (kaya), tubuh yang sehat dan umur yang panjang di dalam perjalanan hidupnya. Melainkan ia memohonkan 2 (dua) hal yang paling penting bagi manusia untuk dapat menjalani hidup yang bermakna di hadapan Tuhan seberapapun panjang umur yang Tuhan berikan kepada kita, kedua hal itu ialah: (1) Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan, dan (2) Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan.
Dan yang paling menarik adalah TUJUAN atau GOAL utama dan satu-satunya mengapa Agur bin Yake memintakan dua hal di atas. Ia mengatakan: “Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.” (ay. 9) --- Bagi Agur bin Yake yang TERPENTING bukan soal kaya atau miskin (rejeki atau bokek), sehat atau sakit, panjang umur atau umur pendek. Yang UTAMA bagi Agur bin Yake adalah agar ia, baik hidup maupun matinya kelak, (1) tidak melupakan Tuhan dan (2) tidak mencemarkan nama Tuhan!
Bagaimana agar kita dapat hidup tidak melupakan Tuhan dan sekaligus juga tidak mencemarkan nama Tuhan? Kita harus belajar apa yang Paulus katakan bahwa dalam segala hal “aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.” (Filipi 4:11-12)
Bagaimana Paulus dapat belajar “mencukupkan diri dalam segala keadaan”? Bukankah suratnya kepada jemaatnya di Filipi lahir dari dalam penjara? Bagaimana mungkin Paulus dapat belajar “mencukupkan diri” ketika ia di dalam penjara? Jawaban atas pertanyaan ini ada di dalam ayat selanjutnya ketika Paulus mengatakan, “Allahku (yang) akan memenuhi segala keperluanmu (ku) menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:19)
Sungguh benar apa yang pemazmur katakan ketika ia menyampaikan bahwa “Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau…” (Mazmur 84:6) dan juga sang peratap ketika ia menyerukan “…Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!” (Yeremia 17:5)
Marilah kepada kita yang masih (atau yang belum) Tuhan berikan rejeki, tubuh yang sehat dan umur yang panjang agar mengandalkan hidup dan diri bukan pada hal-hal yang fana lagi. Melainkan biarlah andalan utama dan satu-satunya kita adalah berasal dari pada TUHAN! Yeremia mengatakan, “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.” (Yeremia 17:7-8)
From: D. Adhi Surya
“For I also withheld you from sinning against Me; therefore I did not let you touch her” (Genesis 20:6b – NKJV)
“… Aku pun telah mencegah engkau untuk berbuat dosa terhadap Aku; sebab itu Aku tidak membiarkan engkau menjamah dia.” (Kejadian 20:6b - LAI)
“… God also gave them up to uncleanness…” (Rome 1:24 –NKJV)
“… Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran…” (Roma 1:24)
“… God gave them up to vile passions…” (Rome 1:26 – NKJV)
“… Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan…” (Roma 1:26)
“… God gave them over to a debased mind…” (Rome 1:28 – NKJV)
“… Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk…” (Roma 1:28)
====================================================
Seseorang pernah bersaksi bagaimana ia dicegah oleh Tuhan untuk tidak dapat mengakses website pornografi yang menjadi kegemarannya. Di dalam kesaksiannya ia mengatakan bahwa di dalam batinnya sendiri sebenarnya sudah “hidup” kesadaran bahwa kebiasaannya membuka website tersebut adalah sesuatu yang bersalah di mata Tuhan. Akan tetapi “belenggu” dari website ini begitu kuat dan “mencengkram” jiwanya. Sehingga setiap kali ia membukanya ia selalu “diserang” oleh rasa bersalah yang besar!
Pada suatu kali ia bersaksi bagaimana Roh Kudus itu “membantu” dia agar tidak menyakiti hati-Nya dengan membuat ia “kesulitan” mengakses website kegemarannya itu di kala “kemudahan” (Kemudahan yang dimaksud olehnya adalah suasana sepi dan sendiri serta akses internet yang sedang bagus) itu ada di depan matanya! Ini merupakan peristiwa yang tidak biasa bagi dirinya. Sebab biasanya ia tidak pernah mengalami hambatan sedikitpun – secara teknis – pada saat membuka website tersebut, kecuali hambatan perasaan bersalah yang kerap kali “dimatikan” olehnya.
Oleh karena rasa penasarannya, ia mencoba untuk “diskonek” saluran internetnya, lalu ia mencoba “rekonek” lagi. Lalu ia mencoba masuk lagi dan lagi-lagi gagal! Lalu ia mencoba lagi “men-diskonek” kemudian “me-rekonek” lagi. Lalu ia mencoba lagi masuk ke halaman website “favorit”-nya itu. Akan tetapi lagi-lagi ia gagal!! Selagi ia merasa kesal karena gagal dan gagal lagi, perasaan bersalah yang hadir di dalam jiwanya pun semakin besar pula! Pada saat kejadian itulah, ia baru menyadari bahwa sebenarnya Tuhan sedang mencegah dirinya untuk tidak melakukan dosa – LAGI! – di hadapan Tuhan!
Abimelekh, sang raja Gerar, mempunyai pengalaman yang serupa keunikannya (tapi tidak sama persis) dengan pemuda di atas. Abimelekh ketika melihat Abraham dan Sara memasuki Gerar, maka di dalam hatinya timbul “chemistry” (“setrum”) kepada Sara. Dan setelah Abimelekh mencari informasi tentang Sara dan Abraham maka ia di dalam ketulusannya dan kekuasaan yang dipunyainya mengambil Sara untuk dijadikan istrinya. Akan tetapi di luar pengetahuannya, Sara – selain saudari tiri – ternyata adalah istri dari Abraham! Dan yang menarik, Tuhan melakukan intervensi di dalam ketidaktahuan Abimelekh bahwa Sara adalah istri dari Abraham! Alkitab mencatat bagaimana Tuhan “menghampiri” Abimelekh pada waktu malam dan berkata kepadanya: “Engkau harus mati oleh karena perempuan yang telah kauambil itu; sebab ia telah bersuami.” (Kejadian 20:3b)
Abimelekh berespon: “Tuhan! Apakah Engkau membunuh bangsa yang tidak bersalah? Bukankah orang itu sendiri mengatakan kepadaku: Dia saudaraku? Dan perempuan itu sendiri telah mengatakan: Ia saudaraku. Jadi hal ini kulakukan dengan hati yang tulus dan dengan tangan yang suci.” (Kejadian 20:4-5) --- Abimelekh sama sekali TIDAK TAHU bahwa Sara adalah istri dari Abraham! Dan di dalam tradisi jaman purba raja-raja pada masa Perjanjian Lama, mengambil perempuan untuk dijadikan istri oleh raja adalah hal yang biasa. Bahkan ada raja-raja yang mengambil perempuan yang merupakan istri orang lain (contoh yang memilukan: raja Daud mengambil Betsyeba!).
Nah, yang menarik adalah respon Tuhan atas respon Abimelekh: “Aku tahu juga, bahwa engkau telah melakukan hal itu dengan hati yang tulus, maka AKU PUN TELAH MENCEGAH ENGKAU UNTUK BERBUAT DOSA TERHADAP AKU; SEBAB ITU AKU TIDAK MEMBIARKAN ENGKAU MENJAMAH DIA.” (Kejadian 20:6) --- Tidakkah luar biasa intervensi yang Allah sanggup kerjakan di dalam hidup anak manusia! Tuhan sendiri turun tangan di dalam mimpi untuk mencegah Abimelekh agar tidak berbuat dosa terhadap Diri-Nya dengan tidak membiarkan Abimelekh menjamah Sara! Luar biasa!!
Jika kita berpikir bahwa Tuhan tidak sanggup melihat ataupun mencegah kejahatan yang dilakukan anak manusia simaklah apa yang pemazmur katakan: “TUHAN ada di dalam bait-Nya yang kudus; TUHAN, tahta-Nya di sorga; mata-Nya mengamat-amati, sorot mata-Nya menguji anak-anak manusia.” (Mazmur 11:4) --- Sungguh, di hadapan Tuhan tidak ada satu hal pun yang luput dan tersembunyi dari-Nya. Sorot mata-Nya menguji anak-anak manusia. Jika Ia sanggup mencegah Abimelekh dan juga pemuda di atas, maka Ia juga sanggup mencegah setiap kita – anak-anak-Nya – yang sedang menuju kepada kubangan dosa. Entah kita melakukannya dengan hati yang tulus (ignorance) seperti Abimelekh ataupun ketika kita melakukannya dengan hati yang bulus (wicked) seperti pemuda di atas.
Pertanyaan yang timbul sekarang adalah: Mengapa di dalam beberapa kasus anak-anak manusia yang lain, Tuhan seolah-olah tidak mencegah sama sekali perbuatan jahat yang mereka lakukan? Mengapa seolah-olah Tuhan malah “mengijinkan” mereka menikmati kenikmatan dosa sampai ke akar-akarnya dan tetap hidup dengan baik-baik saja? Mengapa justru orang-orang yang sedemikian tidak Tuhan “hajar” atau jatuhkan tulah? --- Asaf pernah menaikkan keluh-kesah yang sama ketika ia mengamati “kesuksesan” dan “kemakmuran” orang-orang fasik dengan berkata: “Sesungguhnya, itulah orang-orang fasik: mereka menambah harta benda dan senang selamanya! Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah.” (Mazmur 73:12-13)
Sungguh sia-siakah kita mempertahankan hati yang bersih dan membasuh tangan kita tanda tak bersalah? Jawabannya adalah: TIDAK! Paulus mengingatkan kita semua ketika ia mengatakan: “Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan (“work out” – not “work for” – your salvation) keselamatanmu dengan takut dan gentar… …karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” (Filipi 2:12-13)
Keselamatan yang sudah kita terima sejak Tuhan Yesus masuk di dalam hati kita dan menimbulkan buah ingin taat kepada-Nya hendaklah tetap kita kerjakan sambil takut dan gentar di hadapan-Nya! Janganlah hati kita redup dan tawar di dalam mempertahankan ketaatan untuk hidup dengan hati yang bersih dan dengan tangan yang tak bersalah, sebab Tuhan sendiri tidak pernah redup dan menyerah untuk bekerja di dalam hati kita menghidupkan kemauan dan pekerjaan menurut kerelaan-Nya! We are active outside because God is active inside (Kita aktif di luar bagi Tuhan sebab Tuhan aktif di dalam hati kita). Selama Tuhan aktif bekerja di dalam hati kita, hendaknya kita tidak pernah menyerah untuk aktif di luar “mengerjakan” (mensyukuri) keselamatan yang Tuhan sudah berikan di dalam hati kita untuk kita!
Dan kepada orang-orang yang seolah-olah terlihat senang hidupnya walaupun mereka dengan sengaja melakukan dosa, hendaknya kita memandang mereka seperti Paulus memandang. Paulus mengatakan bahwa Tuhan memang tidak mencegah mereka seperti Tuhan mencegah Abimelekh sebab Tuhan memang ingin MEMBIARKAN mereka menikmati dosa oleh karena memang mereka sudah menutup pintu hati mereka untuk menerima kebenaran Allah! Mereka Tuhan BIARKAN untuk hari murka Tuhan nantinya! Ibarat membeli kendaraan, Tuhan sedang “indent” orang-orang ini untuk nanti pada waktunya tiba menerima murka dan keadilan Tuhan!
Perhatikanlah tanda-tanda perilaku orang-orang yang Tuhan BIARKAN: (1) mereka menghidupi kecemaran, (2) mereka menghidupi hawa nafsu yang memalukan, (3) mereka menghidupi pikiran-pikiran yang terkutuk. --- Betapa mengerikannya ketika Tuhan tidak lagi mencegah manusia dari jeratan dosa! Tuhan MEMBIARKAN / MENYERAHKAN mereka ke dalam kecemaran, hawa nafsu yang memalukan dan pikiran-pikiran yang terkutuk!
Biarlah kita tidak merasa iri dan berpikir bahwa Tuhan tidak adil dengan tidak mencegah mereka berbuat dosa. Tuhan justru begitu adil dan mengasihi dunia ini, itu sebab ada kalanya Ia mencegah anak-anak-Nya yang hendak melakukan dosa, dan ada kalanya Ia menegur anak-anak-Nya yang sedang “asyik” di dalam kubangan dosa. Akan tetapi kepada mereka yang tidak lagi mau mendengarkan teguran Tuhan, maka adalah adil jika Tuhan MEMBIARKAN mereka sampai hari murka Tuhan itu tiba! Dan kepada kita yang masih peka merasakan bagaimana Tuhan menuntun dan mencegah kita untuk tidak berdosa di hadapan-Nya, segeralah berespon terhadap pencegahan yang Tuhan lakukan itu dengan tidak lagi berkanjang dan melanjutkan kebiasaan-kebiasaan berdosa yang masih “hidup” di dalam kita. Biarlah kita boleh sama-sama belajar dari respon Abimelekh ketika Tuhan mencegah dan menegurnya, Abimelekh tidak berkelit dan tidak mengeraskan hati, ia taat dan mengembalikan Sara kepada Abraham. Dan Alkitab mencatat bagaimana Tuhan menghargai respon ketaatan Abimelekh dengan memberkati kerajaan Gerar sehingga mempunyai keturunan (Kejadian 20:17-18)
Kiranya Tuhan terus menghidupkan kepekaan di hati kita untuk dapat melihat “pencegahan-pencegahan” yang Tuhan sedang kerjakan bagi anak-anak-Nya agar kita tidak terus-menerus berdosa dan menyakiti Tuhan. Amin.
“Day by day, dear Lord, of thee three things I pray: To see thee more clearly, Love thee more dearly, Follow thee more nearly, Day by day.” (Richard of Chichester)