Sunday, July 18, 2010

Ada Yang Bisa Saya Bantu?

Ayat bacaan: Matius 5:7
=====================
"Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan."

murah hati"Perusahaan X, Selamat siang, dengan A disini, ada yang bisa dibantu?" Ini sebuah jawaban standar yang akan selalu kita dengar ketika kita menghubungi costumer service lewat telepon. Ketika mereka mengatakan hal ini, artinya mereka siap melayani keluhan dari kita dan mencoba mencari solusi pemecahannya, minimal mencatat dan meminta kita menunggu dalam selang waktu tertentu untuk dibereskan. Jaman semakin maju, ada banyak perusahaan yang menyediakan costumer service di internet, yang bisa kita hubungi dalam jam kerja semudah kita melakukan chatting. Saya kerap berpikir, betapa kemajuan jaman ini memang memberikan banyak kemudahan, sebab ketika saya kecil dahulu, pelayanan seperti ini belumlah ada. Melihat perkembangan layanan purna jual yang terus dibenahi semakin baik dari jaman ke jaman membuat saya menyadari betapa manusia tidak pernah mampu hidup sendirian. Kita selalu butuh untuk terhubung dengan orang lain dalam hidup ini, minimal untuk mengurangi kesulitan yang akan timbul ketika melakukannya sendirian.

Sebuah karakter yang wajib dimiliki oleh kita pengikut Kristus adalah murah hati. Seperti apa yang dikatakan costumer sercvice di atas, kita pun seharusnya tetap peka dalam melihat permasalahan orang-orang yang berada di sekitar kita dan siap menanyakan hal yang sama: "Ada yang bisa saya bantu?" We have to be ready to lend a hand, to help. Kemurahan hati merupakan sebuah karakter atau sikap yang harus hidup dan bertumbuh subur dalam diri kita.

Ada banyak orang rela memberi, tetapi tidak semua berasal dari karakter kemurahan hati. Perhatikanlah ada banyak orang yang memberi dengan mengharapkan imbalan atau balas jasa. Ada orang yang memberi demi agendanya pribadi, demi tujuan tertentu yang memberikan keuntungan bagi dirinya secara pribadi atau golongan. Ada pula yang ketika memberi mereka berharap mereka dapat menguasai atau mengubah orang yang diberi sesuai dengan keinginan mereka, membantu seseorang untuk menjadikannya boneka yang bisa diatur sekehendak hati. Yang seperti ini bukanlah sebuah pemberian yang didasari sebuah sikap kemurahan hati yang berasal dari kasih. Apa yang mendasari sebuah uluran tangan untuk membantu haruslah murni dari kemurahan hati, dan kemurahan hati ini harus pula berlandaskan kasih. Inilah yang dikehendaki Tuhan untuk kita miliki.

Kemurahan hati mutlak harus kita miliki sebagai pengikut Yesus. Dia telah menyampaikan hal ini dalam kotbah di atas bukit yang sangat terkenal itu. "Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan." (Matius 5:7). Hal ini sejalan dengan apa yang tertulis jauh sebelumnya, yaitu dalam Amsal: "Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri, tetapi orang yang kejam menyiksa badannya sendiri." (Amsal 11:17). Hanya dengan bersikap murah hati yang benar-benar tuluslah kita akan beroleh kemurahan. Jika kita hanya berpura-pura baik dalam membantu atau memberi padahal kita punya begitu banyak agenda terselubung dibelakangnya, maka hal itu bukanlah sesuatu yang berkenan di mata Tuhan.

Cukupkah murah hati itu diwakili oleh sebuah perasaan kasihan, ungkapan simpati yang hanya berhenti hingga kata-kata yang keluar dari mulut saja? Tentu tidak. Perhatikan firman Tuhan berikut: "Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?" (1 Yohanes 3:17). Bagaimana mungkin kita mengaku memiliki kasih Allah, mengaku sebagai anak Allah, tetapi kita tidak melakukan apa-apa secara nyata dan hanya bergumam kasihan saja kepada orang lain? Maka apa yang harus kita lakukan pun hadir dalam ayat berikutnya. "Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran." (ay 18). Bukan hanya dengan perkataan, bukan sebatas di bibir atau lidah saja, tetapi haruslah lewat perbuatan nyata dan dalam kebenaran.

Ketika menjelaskan hakekat iman, Yakobus pun menyinggung hal kemurahan hati yang diikuti dengan perbuatan nyata ini. "Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: "Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!", tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu?" (Yakobus 2:15-16). Bukankah kita sering melakukan ini? Ketika orang butuh bantuan, kita mungkin menunjukkan kepedulian kita dengan kata-kata nasihat yang panjang, bahkan menguliahi atau mengkotbahi mereka, tetapi kita tidak melakukan apapun secara nyata untuk meringankan beban mereka. Yakobus mengingatkan bahwa semua itu tidaklah berguna. Ini sama dengan iman yang hanya kita katakan, kita hanya mengakui kita memiliki iman, tapi kita tidak menyertainya dengan perbuatan. Dan iman seperti ini dikatakan pada hakekatnya adalah mati. (ay 17). Kemurahan hati seperti halnya iman haruslah diikuti dengan sebuah perbuatan nyata, dan ini penting untuk kita ingat.

Jika kita mengaplikasikan kasih dan kemurahan hati berdasarkan sebab akibat, itupun tidak tepat. Memberi hanya karena membalas pemberian orang, atau berharap diberi kembali, berbuat baik karena orang baik kepada kita, mengasihi orang karena mereka mengasihi kita, itu semua masih terlalu dangkal. Yesus mengatakan "Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian?" (Matius 5:46-47). Dan inilah yang dituntut dari kita: "Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna." (ay 48). Seperti halnya Bapa di surga mengasihi semua orang dengan sempurna, seperti itu pula kita dituntut untuk berlaku. Membantu, memberi tanpa pamrih, tergerak dan terpanggil untuk melakukan sesuatu secara nyata bukan karena mengharap imbalan atau memiliki tujuan tersembunyi di belakangnya, tapi murni karena belas kasihan, sebuah kemurahan hati yang berdasarkan kasih. Bukan sembarang kasih, tetapi seperti kasih Allah yang tinggal diam di dalam diri kita.

"Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya." (1 yoh 4:21) Yesus juga berkata: "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi." (Yohanes 13:34). Sesungguhnya kasih memiliki posisi yang sangat tinggi dalam kekristenan. Itu adalah sebuah esensi dasar Kekristenan. Sudahkah kita memilikinya? Sudahkah kita peka terhadap kesulitan orang di sekeliling kita dan bergerak untuk memberikan bantuan nyata? Atau kita masih berhenti pada rasa iba tanpa perbuatan, masih berhitung untung rugi, memikirkan manfaat apa yang bisa kita peroleh dibaliknya, atau malah tidak peduli sama sekali? Simpati atau iba itu baik, tapi tidak akan ada hasilnya jika tidak diikuti dengan perbuatan nyata. Dan itu haruslah berasal dari hati yang mengasihi. Itulah sebuah kemurahan hati yang selayaknya dimiliki oleh kita. Kehidupan secara global semakin berat, itu artinya semakin banyak orang yang butuh uluran tangan saudara-saudaranya. Siapkah anda untuk datang kepada mereka dan berkata, "adakah yang bisa saya bantu?"

Kemurahan hati berdasarkan kasih akan mampu membuat perbedaan nyata dalam kehidupan

Saturday, July 17, 2010

Makna Spiritual dalam Bekerja

Ayat bacaan: Kolose 3:23
===================
"Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk  manusia."

bekerjaKerja ya kerja, spiritual ya spiritual. Ada banyak orang yang membagi kedua hal ini menjadi bagian yang benar-benar terpisah dan berbeda. Bekerja itu murni dan mutlak untuk menyambung hidup, mencari nafkah, memenuhi kebutuhan keluarga dan diri sendiri. Artinya, tidak ada makna spiritual apapun yang bisa dikaitkan dengan pekerjaan atau profesi kita sehari-hari. Bicara soal spiritual beda lagi, yang dipikirkan adalah doa, pujian dan penyembahan, saat teduh dan kegiatan rohani lainnya. Menjadi pendeta, misionaris, diaken atau worship leader dan tim musik, itulah urusan rohani, sedangkan dalam bekerja tidak ada kaitan sama sekali dengan spiritual. Ini adalah sebuah misconcept, sebuah pemikiran yang keliru.

Benar bahwa kita bekerja untuk menyambung hidup. Benar bahwa kita harus bekerja untuk mencari nafkah, mencukupi kehidupan rumah tangga dan kebutuhan istri dan anak-anak. Alkitab pun berkata dengan keras mengenai sebuah keharusan untuk giat bekerja. "Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan." (2 Tesalonika 3:10). Tidak ada kemalasan dalam kamus kehidupan kekristenan. Jika kita melihat orang-orang yang dipakai Tuhan di sepanjang alkitab, kita pun akan menemukan bahwa mereka yang dipakai Tuhan adalah orang-orang yang kedapatan sedang bekerja. Tuhan tidak memakai orang malas, Dia tidak pernah berkenan kepada sesuatu yang bernama kemalasan ini. Namun ingatlah bahwa prinsip kekristenan memandang kerja bukan hanya sekedar untuk menyambung hidup atau mencari nafkah saja, melainkan juga untuk memuliakan Tuhan di dalamnya. Lebih dari sekedar memenuhi kebutuhan, bekerja seharusnya juga memiliki makna spiritual di dalamnya.

Apa yang menjadi tugas manusia yang diberikan Allah lewat Adam? Dalam Kejadian 2 kita bisa membaca bahwa Adam ditugaskan untuk "mengusahakan dan memelihara taman Eden" (Kejadian 2:15), lebih lanjut juga ditugaskan seperti ini: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." (1:28). Perhatikan bahwa Adam bukan ditugaskan untuk berdoa, menyanyi dan menari untuk Tuhan, tetapi untuk melakukan serangkaian tugas seperti yang tertulis dalam ayat di atas. Artinya untuk menyenangkan dan memuliakan Tuhan kita bukan hanya terbatas pada kegiatan-kegiatan kerohanian semata, tapi lewat pekerjaan atau profesi kita sehari-haripun kita harus memperhatikan untuk melakukan hal-hal yang bisa menyenangkan hati Tuhan, dimana Tuhan dimuliakan di dalamnya.

Mari kita lihat sejenak sosok Paulus. Paulus adalah seorang yang radikal dalam mewartakan berita keselamatan kemanapun ia pergi. Dia tidak takut, dia tidak bersungut-sungut, dia tidak hitung-hitungan untung rugi, semua dia lakukan karena ketaatan dan kasih yang besar kepada Kristus. Bahkan nyawanya sekalipun ia berikan demi menjalankan apa yang telah ditugaskan kepadanya. Namun lihatlah bahwa Paulus masih tetap bekerja. Paulus bekerja sebagai pembuat kemah (Kisah Para Rasul 18:2-3), dan itu dia gunakan untuk membiayai keperluan dan kebutuhannya beserta teman-teman sekerja dalam melayani. (20:34). Paulus tidak meminta hak khusus untuk tidak bekerja, meskipun waktu dan fisiknya jelas tersita untuk melayani kemana-mana. Ia mengalami deraan, siksaan dan sebagainya, namun ia tetap bekerja. Bahkan lebih dari sekedar untuk membiayai pelayanan, Paulus pun menyatakan bahwa ia bekerja agar bisa memberi, membantu orang lain. "Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." (ay 35). Dari rangkaian fakta ini kita bisa menyimpulkan bahwa Paulus menyadari ia bisa memuliakan Tuhan lewat pekerjaannya. Tidak bersungut-sungut dalam melayani dan bekerja sekaligus, membiayai pelayanannya dan rekan-rekan, plus memberi bantuan kepada orang lain, bukankah semua itu merupakan sesuatu yang berharga di mata Tuhan? Artinya jelas, ada makna spiritual yang harus terkandung di dalam pekerjaan yang kita lakukan sehari-hari.

Firman Tuhan berkata: "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk  manusia." (Kolose 3:23). Ayat ini mengikuti ayat sebelumnya yang berbunyi "Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan." (ay 22). Ada sebuah alasan yang lebih dari sekedar menyambung hidup dalam bekerja, yaitu untuk menyenangkan hati Tuhan. Dan karena itulah kita dituntut untuk bekerja dengan serius dan sungguh-sungguh, bukan seperti untuk manusia melainkan seperti untuk Tuhan. Tokoh reformasi gereja Martin Luther pernah berkata: "Even if I knew that tomorrow the world would go to pieces, I would still plant my apple tree." Ia akan tetap bekerja meski besok dunia hancur lebur. Semua ini bisa membuka cakrawala pemikiran kita bahwa sudah seharusnya pekerjaan kita memiliki nilai spiritual yang sama dalamnya dengan segala kegiatan kerohanian kita seperti berdoa, membaca firman Tuhan, beribadah, bersekutu dan sebagainya. Bekerja adalah sebuah hal yang sangat penting di mata Tuhan, bukan saja karena Tuhan tidak menyukai orang malas, tetapi karena ada banyak hal yang bisa kita lakukan di dalamnya untuk menyatakan kemuliaan Tuhan. Oleh sebab itu kita harus memandang dan memperlakukan pekerjaan kita sama serius dan dalamnya seperti segala kegiatan kerohanian kita. Mulai hari ini, mari kita sama-sama pastikan bahwa kita telah memandang pekerjaan atau profesi kita hari ini seperti apa yang Tuhan kehendaki.

Ada makna spiritual yang seharusnya terkandung di dalam pekerjaan, karena itu lakukanlah dengan sungguh-sungguh seperti untuk Tuhan