Monday, October 4, 2010

Saksi

Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 1:8
==========================
"Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."

saksiApa yang anda lakukan ketika melihat terjadinya kecelakaan lalu lintas tepat di depan anda? Kebanyakan orang akan segera menghindar dari lokasi kejadian karena takut terbelit masalah. Jangan-jangan malah kita yang kena getahnya nanti. Atau kalaupun tidak, tetap saja kita harus repot berurusan dengan polisi sebagai saksi. Seorang teman saya pernah bercerita mengenai hal ini. Pada dini hari ia melihat seorang ibu dan bapak yang membawa sayur-sayuran mengendarai motor ditabrak mobil di sebuah persimpangan jalan, tepat di depan matanya. Ia melihat ibu dan bapak tersebut tergeletak tidak bergerak berlumuran darah. Ia pun bergegas memanggil satpam sebuah hotel yang terletak tidak jauh dari situ, dan ternyata si satpam pun terlihat ragu untuk mendatangi lokasi. Teman saya kemudian pergi meninggalkan lokasi. Ketika saya tanya, mengapa tidak menolong mereka atau setidaknya menelepon polisi? Ia hanya berkata, "bisa panjang urusannya nanti.. salah-salah malah saya yang dituduh." katanya.

Menjadi saksi memang biasanya tidak mudah, bisa panjang urusannya. Salah-salah malah kita yang terlibat masalah, dan itu sudah sering terjadi. Sebagai saksi kita harus berbicara mengenai kebenaran, apa adanya sesuai fakta yang kita lihat atau ketahui, sementara kita tahu bahwa di dunia ini tidak semua orang menyukai kebenaran. Tuhan Yesus begitu dibenci oleh orang-orang Farisi dan para ahli Taurat karena menyuarakan kebenaran mengenai Kerajaan Allah. Mereka berkomplot dan berusaha membunuh Yesus dalam beberapa kali kesempatan. Dan hingga hari ini kita seringkali melihat bagaimana seorang saksi justru mendapat ancaman pembunuhan atau teror lewat kesaksiannya.

Tidak mudah, bahkan berat. Itulah yang harus dialami seorang saksi. Tetapi biar bagaimanapun beratnya, kita harus menyadari bahwa Tuhan Yesus telah memberikan panggilan sebagai saksi kepada kita semua, murid-muridNya yang berada pada masa kita di muka bumi ini. Lihatlah pesan Yesus sebelum Dia terangkat ke surga. "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kisah Para Rasul 1:8). ini adalah sebuah pesan yang sangat penting dan rinci dari Yesus. Dan ini juga merupakan pesan terakhirNya di muka bumi ini, itu artinya sebagaimana pesan atau amanat terakhir orang yang akan pergi, pesan ini tentulah teramat sangat penting untuk kita lakukan.

Mengapa saya katakan rinci? Karena dalam ayat ini Yesus jelas menggambarkan langkah-langkah panggilan kita sebagai saksi secara step by step. Langkah pertama adalah di Yerusalem dulu, yang mengacu kepada lingkungan atau kota di mana kita tinggal. Lalu dari situ kita meningkat kepada skop yang lebih besar yaitu seluruh Yudea, berbicara mengenai bangsa atau negara, lalu Samaria, menggambarkan bangsa-bangsa lain di luar Kristus dan dari sana barulah kita mencapai tahap terakhir, yaitu sampai ke ujung bumi. Kita tidak bisa bermimpi untuk memberi dampak secara global jika kita tidak memulainya dari area terkecil, yaitu lingkungan keluarga, pertemanan dan kota terlebih dahulu. Di area kecil ini saja menjalani kehidupan sebagai saksi tentu tidak mudah, apalagi pada area-area yang lebih besar selanjutnya. Tapi meski sulit, ini sudah menjadi kewajiban kita sebagai pengikut Kristus, yang suka atau tidak suka seharusnya sudah menjadi sesuatu yang kita pentingkan dalam hidup kita.

Sulit, itu pasti. Tetapi lihatlah bahwa kita tidak diminta untuk berjalan sendirian. Pesan Kristus di atas dimulai dengan "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu." Ada kuasa yang diberikan kepada kita yang akan memampukan kita untuk menjalani kehidupan sebagai saksi apabila Roh Kudus telah turun dan berdiam (dwell) dalam kita. Kuasa seperti apa? Sesungguhnya apa yang diberikan Kristus adalah serangkaian kuasa luar biasa di atas kemampuan manusia biasa. "Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu." (Lukas 10:19). Bagi kita yang percaya pada Kristus juga dikatakan akan mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan seperti apa yang Tuhan Yesus lakukan, bahkan dikatakan pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. (Yohanes 14:12). Ada kuasa luar biasa yang tak terbatas ketika kita percaya pada Yesus dan menerima Roh Kudus dalam diri kita, dan itulah yang akan menyempurnakan kita untuk mampu menjalani peran sebagai saksi-saksi Kristus di muka bumi ini.

Jangan lupakan pula bahwa kita bisa mulai untuk menjadi saksi ketika kita memiliki kehidupan yang mencerminkan karakter pribadi Kristus, ketika kita memiliki buah-buah Roh seperti yang digambarkan dalam Galatia 5:22-23. "Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu." Karakter yang penuh dengan buah Roh seperti itu akan menjadi sebuah kesaksian tersendiri di mata dunia yang dikuasai oleh hal-hal sebaliknya. Dan karakter seperti ini bisa kita miliki apabila kita "menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya" (ay 24) dan "hidup dipimpin oleh Roh." (ay 25).

Peran sulit sebagai saksi telah disematkan pada diri setiap orang percaya. Sudahkah kita melakukannya? Ini adalah sebuah panggilan berat yang memang bisa sangat menyulitkan kita. Ada kalanya kita harus siap diperlakukan tidak adil, diejek, bahkan mungkin mendapat ancaman dan berbagai penderitaan lainnya. Tetapi Yesus mengingatkan bahwa justru dalam keadaan demikianlah kita bisa mendapat kesempatan untuk bersaksi. (Lukas 21:13). Ingat pula bahwa kita tidak sendirian dalam melakukannya, karena selain Roh Kudus turun atas kita, Yesus juga telah mengatakan "Aku menyertai kamu enantiasa sampai akhir zaman." (Matius 28:20). Sebesar apapun resiko yang harus kita hadapi, kita tidak bisa menyangkal bahwa kehadiran kita sebagai saksi akan memiliki peran sangat penting dalam mewartakan kebenaran. Kesaksian sekecil apapun dari kita bisa menjadi sebuah awal baru bagi perubahan dan pertobatan orang lain. Hari ini marilah kita sama-sama renungkan, apakah kehidupan kita sudah menjadi saksi bagi Kristus? Mulailah dari lingkungan terkecil anda terlebih dahulu, dan teruslah meningkat seperti yang dikehendaki Tuhan.

Menjadi saksi di muka bumi merupakan panggilan bagi setiap orang percaya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, October 3, 2010

Tetap Berbuah

Ayat bacaan: Mazmur 92:15
=====================
"Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar"

tetap berbuahSebuah pohon mangga yang sudah tua tumbuh tidak jauh dari tempat saya mengajar. Meski sudah tua tapi pohon itu masih menghasilkan buah yang besar-besar. Jumlah buah yang dihasilkan pun terlihat tidak sedikit. Pohon mangga itu mengingatkan saya pada usia produktif manusia. Berapa lama sebenarnya kita berada dalam batasan usia yang dianggap produktif? Jika melihat lowongan pekerjaan di koran batasan usia akan terlihat menjadi semakin singkat. Jika anda berusia 35 tahun saja, itu artinya lowongan pekerjaan yang masih memungkinkan bagi anda sudah berkurang jauh. Malah tidak jarang saya melihat batasan usia yang lebih ketat lagi, maksimal 30 tahun. Kita tidak bisa menghentikan waktu. Waktu akan terus berjalan dan sehubungan dengan itu kita pun akan terus semakin tua. Saat ini saya hampir memasuki dasawarsa ke empat dari usia saya. Tapi apakah itu artinya saya tidak bisa melakukan apa-apa lagi? Dunia mungkin memberi batas untuk kita, tetapi tidak bagi Tuhan. Berapapun umur kita, Tuhan tetap menjanjikan kasih dan kesempatan untuk terus berbuah. Tuhan akan tetap bisa memakai anda secara luar biasa tanpa melihat berapapun umur anda sekarang.

Pemazmur menulis seperti ini: "Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon; mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita." (Mazmur 92:13-14). Itu janji Tuhan terhadap orang-orang benar. Mereka yang tertanam dan berakar dalam Tuhan akan tetap bertunas dan tumbuh subur. Sampai kapan? Adakah batas usia untuk kita bertunas dan bertumbuh? Alkitab berkata tidak ada. Lihat ayat selanjutnya, "Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar" (ay 15) Hingga masa tua sekalipun, kata firman Tuhan orang-orang benar ini akan terus bertumbuh subur, malah dikatakan masih berbuah, bertambah gemuk dan segar. Masuk akalkah hal ini?

Tenaga manusia memang akan menurun. Kemampuan secara umum akan menurun. Kita memang tidak bisa melawan hukum alam mengenai kondisi fisik manusia sejalan dengan usia. Namun itu bukan berarti kita harus pula berhenti berbuah. Bagaimana bisa? Ayat berikut menjelaskan bagaimana itu bisa dimungkinkan. "Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu." (Yesaya 46:4). Kekuatan kita terbatas dan akan menurun, tetapi kekuatan Tuhan tidak akan pernah berkurang. Dan Tuhan menyatakan siap menggendong dan memikul serta menyelamatkan kita sampai seluruh rambut kita putih sekalipun. Ini janji Tuhan. Artinya jelas, Tuhan tetap memiliki rencana bahkan ketika kita sudah tua dan lemah, Tuhan tetap mau pakai kita tanpa melihat umur dan kemampuan kita.

Dalam Alkitab kita bisa melihat banyak contoh mengenai orang yang dipakai hingga tua, malah ada pula yang dipakai justru setelah tua. Abraham misalnya. Ia menerima semua janji Tuhan di usia senja, dimana bagi dunia ia mungkin tidak lagi berarti apa-apa. Tapi Alkitab mencatat dengan jelas: "Adapun Abraham telah tua dan lanjut umurnya, serta diberkati TUHAN dalam segala hal." (Kejadian 24:1). Dan pada kondisi Abraham yang telah tua inilah ia menerima janji akan keturunan. Kapan ia menuai janji itu? Beberapa puluh tahun kemudian, di usia yang sudah sangat lanjut. Nuh juga dipakai pada usia lanjutnya. Dia bahkan harus bekerja keras membangun bahtera. Mengeluhkah Nuh? Sama sekali tidak. Ia setia dan terus melakukan tepat seperti apa yang diperintahkan Allah kepadanya. Membangun kapal besar, mengumpulkan seluruh hewan sepasang-sepasang. Itu sama sekali tidak gampang, apalagi harus dilakukan ketika secara fisik kondisi tubuh sudah sangat menurun. Kita yang muda saja rasanya tidak sanggup, tapi Nuh bisa. Dan itu karena Allah yang setia tetap berada besertanya, menggendongnya dan memikulnya, sehingga ia sanggup melakukan hal yang bagi dunia akan terlihat sangat mustahil. Kaleb pun sama. Lihat apa katanya ketika ia hendak menuai janji Tuhan. "Jadi sekarang, sesungguhnya TUHAN telah memelihara hidupku, seperti yang dijanjikan-Nya. Kini sudah empat puluh lima tahun lamanya, sejak diucapkan TUHAN firman itu kepada Musa, dan selama itu orang Israel mengembara di padang gurun. Jadi sekarang, telah berumur delapan puluh lima tahun aku hari ini; pada waktu ini aku masih sama kuat seperti pada waktu aku disuruh Musa; seperti kekuatanku pada waktu itu demikianlah kekuatanku sekarang untuk berperang dan untuk keluar masuk." (Yosua 14:10-11). Bagaimana orang berusia 85 tahun masih sanggup berkata seperti itu, siap untuk berperang? Dari ketiga tokoh ini kita bisa melihat betapa luar biasanya ketika kita menjadi orang benar yang tertanam di pelataran Allah. Tidak ada kata layu, tidak ada kata habis, malah semakin gemuk dan segar menghasilkan buah-buah yang matang.

Mengapa Tuhan harus memakai orang-orang tua? Bukankah lebih gampang memakai anak-anak muda yang jumlahnya pun tidak sedikit? Siapapun kita, berapapun umur kita, Tuhan rindu untuk memakai kita. Ini bukan soal usia, bukan soal tenaga, tetapi soal ketaatan. Apakah kita tunduk dan mengijinkan Tuhan untuk memakai kita atau kita terus mencari dalih untuk menghindar dari panggilan Tuhan kepada kita. Jika kita kembali kepada Mazmur 92 di awal renungan ini, ketika firman Tuhan berkata "pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar" (ay 15), ayat selanjutnya menyatakan alasannya secara jelas. "untuk memberitakan, bahwa TUHAN itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan pada-Nya." (ay 16) Kuasa Tuhan akan tampak secara nyata di mata dunia ketika orang-orang yang bagi dunia dianggap sudah habis ternyata masih mampu berbuah subur, tetap segar dan bersemangat berbuat yang terbaik dalam hidupnya.

Tuhan sangat mengasihi kita sejak awal hingga akhir, tidak akan pernah berkurang sama sekali kasih setiaNya. Dia tetap Allah yang sama yang selalu mengasihi kita dahulu, sekarang dan kelak bahkan selamanya. Tuhan menyatakan langsung bahwa pada kenyataannya Dia sudah mendukung kita sejak dari kandungan, sudah menjunjung kita sejak dari rahim ibu (Yesaya 46:3), dan Dia akan tetap menggendong dan mendukung kita hingga masa senja nanti. Dengan penyertaan seperti itu, mengapa kita harus khawatir dan merasa tidak lagi mampu berbuat apa-apa? Pembuka kitab Mazmur sudah menyatakan "Berbahagialah orang yang.. kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil." (Mazmur 1:1-3).  Ini janji Tuhan terhadap orang-orang benar yang selalu berakar dalam Tuhan. Berapapun umur kita, bagaimanapun tenaga kita, seperti apapun keahlian kita, Tuhan selalu rindu untuk memakai kita. Tuhan selalu ingin kuasa dan kasihNya bisa terlihat nyata oleh orang-orang lewat diri kita. Siapkah kita? Tetaplah semangat dan teruslah bertunas dan berbuah.

Kasih Allah tak berkesudahan sampai kapanpun

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho