Ayat bacaan: Keluaran 3:7
====================
"Dan TUHAN berfirman: "Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka."
Tahukah Tuhan apa yang sedang kita alami saat ini? Itu pertanyaan yang sering muncul di benak orang yang sedang mengalami masalah. Pertanyaan ini tidak saja keluar dari orang tidak percaya, tapi di kalangan anak Tuhan pun sering. Ada kalanya ketika kita merasakan kepedihan dan penderitaan, kita merasa seolah-olah Tuhan berpangku tangan membiarkan kita sendirian. Mungkin Tuhan tidak mendengar, mungkin Tuhan sedang terlalu sibuk, atau mungkin kita merasa terlalu kecil buat diurusi Tuhan. Itu sering menjadi reaksi dari orang-orang yang merasa belum mendapat jawaban atas doa-doanya. Menunggu memang tidaklah mudah, waktu seakan berjalan lebih lambat dari normal. Tapi apakah benar Tuhan tidak mengetahui apa yang kita alami? Tidak. Tuhan tahu. Dia lebih dari tahu, dan itu kabar gembiranya. Tidak saja tahu, tapi Tuhan juga mengerti, dan peduli.
Ayat bacaan hari ini diambil dari saat ketika Musa pertama kali dipanggil untuk dipakai atau diutus Tuhan. Mengapa Musa dipanggil Tuhan? Karena Tuhan tahu betul bagaimana kesengsaraan umatNya di tanah Mesir, dimana mereka hidup sebagai budak yang tidak berharga. Firman Tuhan berkata demikian: "Dan TUHAN berfirman: "Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka." (Keluaran 3:7). Maka Musa pun diutus Tuhan untuk membawa umatNya keluar dari perbudakan untuk berjalan memasuki tanah terjanji. Dari ayat ini kita bisa melihat bahwa bukan saja Tuhan tahu, tapi Dia pun peduli dan berkenan mengambil langkah untuk menolong umatNya. Jika pada akhirnya bangsa Israel harus mengarungi perjalanan berpuluh tahun dan hampir seluruhnya dari angkatan pertama yang keluar dari Mesir saat itu gagal memasuki tanah terjanji, itu bukan karena Tuhan ingkar janji, tapi karena kesalahan bangsa Israel itu sendiri. Apa yang dijanjikan Tuhan jelas, sebuah tempat yang kaya dan subur. "Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya" (ay 8).
Ketika Yesus melakukan pelayananNya di muka bumi ini, pada suatu ketika Yesus pergi mengunjungi sebuah kota bernama Nain bersama murid-muridNya diikuti banyak orang yang menyertai perjalananNya berbondong-bondong. Pada saat itu, Yesus bertemu dengan seorang janda yang sedang mengantar jenazah anaknya yang meninggal. Dan betapa menarik, reaksi Tuhan Yesus adalah seperti ini: "Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: "Jangan menangis!" (Lukas 7:13). Tuhan Yesus menunjukkan empatiNya akan penderitaan manusia. He knows exactly how it feels. Tidak berhenti sampai disitu, tapi Yesus pun ternyata turut campur secara langsung pada hari dimana sang janda mengira bahwa hidupnya akan berlanjut tanpa kehadiran anaknya lagi. Inilah yang kemudian dilakukan Yesus: "Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata: "Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!" (ay 14). Dan si anak pun bangkit! Ada banyak orang yang melihat dan terkejut dengan apa yang mereka lihat, kemudian segera menyadari bahwa Allah telah melawat mereka. (ay 16).
Sikap pro-aktif penuh empati seperti yang kita lihat dalam dua kisah di waktu yang berbeda di atas merupakan contoh nyata betapa Tuhan memperhatikan nasib kita. Tidak satupun di kolong langit ini yang berada di luar jarak pandang Tuhan. Dia tahu betul apa yang sedang kita rasakan. Tidak hanya tahu, tapi juga peduli dan mau mengulurkan tanganNya untuk menolong kita. Dia adalah Allah yang penuh belas kasihan. Karena alasan itu pula Tuhan sampai harus rela menyerahkan Kristus untuk menebus kita semua dari kebinasaan dan masuk ke dalam hidup yang kekal, yang penuh sukacita, berlimpah susu dan madunya. Dia merasakan penderitaan kita. Begitu merasakan, bahkan Yesus pun sampai menangis melihat warna-warni kepedihan yang dialami manusia, juga menangis melihat bahwa kita seringkali tidak sadar bahwa apa yang kita lakukan sedang mengarahkan kita kepada kehancuran. (bacalah Lukas 19:28-44). Belas kasihNya yang begitu besar tampak dari rupa-rupa pelayananNya ketika hadir di muka bumi ini dengan mengambil rupa seorang hamba.
Berbagai masalah, tantangan, penderitaan mungkin sedang kita alami hari ini, dan mungkin akan kita alami di waktu yang akan datang. Jangan sampai masalah itu membuat kita mengalami kepahitan terhadap Allah, dengan mengira bahwa Dia tidak mendengar, tidak peduli atau tidak mau berbuat apa-apa. Tuhan telah berulangkali membuktikan secara nyata bahwa Dia selalu tahu bagaimana penderitaan kita dan menjanjikan kelepasan dari masalah seberat apapun. Adalah benar bahwa hidup ini tidak akan pernah seterusnya berjalan tanpa penderitaan, tapi di sisi lain kita juga harus tahu bahwa Tuhan akan selalu berkenan untuk turut campur dalam setiap perkara. Tuhan siap menguatkan kita hingga kita mampu menanggung setiap perkara, seberat apapun itu (Filipi 4:13), dan Tuhan pun sanggup melepaskan kita sepenuhnya. Bawalah segala permasalahan anda hari ini ke hadapan Tuhan, dan mari dengarkan apa kataNya. Percayalah bahwa ada belas kasih tak terbatas dari Tuhan untuk anda dan saya.
Tuhan selalu siap untuk turut campur dalam setiap perkara
Sunday, March 14, 2010
Saturday, March 13, 2010
Surat Kristus
Ayat bacaan: 2 Korintus 3:3
=======================
"Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia."
Adakah di antara teman-teman yang ingat jaman ketika "sahabat pena" sangat populer di kalangan remaja? Orang saling berkorespondensi, berkenalan dan kemudian menjadi akrab meski jaraknya berjauhan lewat surat menyurat. Waktu yang diperlukan cukup lama untuk saling berbalasan, tapi itu tidak menghambat hubungan persahabatan yang bisa terjalin sangat dekat dengan seseorang di seberang sana, yang belum pernah bertemu sebelumnya. Saat ini teknologi sudah begitu maju, sehingga orang lebih cenderung menggunakan fasilitas surat elektronik atau email. Sangat mudah dan sangat cepat. Anda hanya perlu login, kemudian mengetik sebuah surat, lalu mengirimnya dan sesaat kemudian surat itu akan sampai ke tangan orang yang anda tuju di belahan dunia lainnya. Perkembangan surat menyurat memang sudah sedemikian maju, tapi biar semaju apapun kita tetap saja perlu berhubungan dengan orang lain lewat surat. Kita bisa menyampaikan pesan dan sebagainya lewat surat yang akan dapat dibaca orang lain yang melihatnya. Sebuah surat terbuka seperti di mailing list atau pemberitahuan dari direksi kepada karyawan akan dapat dilihat oleh jumlah orang yang banyak sekalipun. Jika kita tidak berani mengutarakan sesuatu, surat akan menjadi alternatif yang paling mudah untuk dilakukan.
Sejak jaman dahulu orang memang sudah gemar menulis surat. Diukir di atas loh batu, menggunakan buluh yang dicelup pada tinta, pena, pulpen hingga mengetik, semua itu merupakan perkembangan dari hal tulis menulis ini. Sadarkah kita jika diri kita pun sebenarnya merupakan sebuah surat, bukan hanya surat tapi juga surat terbuka? Ya, kita surat terbuka yang bisa dibaca banyak orang. Sebagai orang percaya, kita seharusnya menjadi surat yang bukan sembarang surat, tapi menjadi surat Kristus yang bisa dibaca oleh orang lain.
Firman Tuhan berkata "Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia." (2 Korintus 3:3). We are like a piece of paper that can be read by everyone. Apapun yang tertulis dalam hidup kita, bagaimana cara hidup kita, sikap dan tingkah laku kita, perbuatan kita, itu semua begitu terang benderang untuk dibaca oleh orang lain. Orang percaya seharusnya menjadi sebuah surat Kristus. Yang bukan ditulis dengan tinta biasa, bukan pada loh-loh batu, tapi ditulis oleh Roh Allah yang hidup langsung ke dalam hati kita. Dan dari hati kitalah terpancar cara hidup kita, yang akan mampu dibaca orang lain. Jika yang tertulis jelek, maka jelek pulalah yang dibaca orang, sebaliknya jika yang tertulis adalah gambaran Kristus, maka orangpun bisa "membaca" siapa Kristus sebenarnya lewat diri kita.
Apa yang tertulis dalam hati kita hari ini? Penulis Amsal mengingatkan kita untuk terus menjaga hati, karena dari sanalah sebenarnya sebuah kehidupan itu terpancar. "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Amsal 4:23). Artinya, apapun yang terpancar keluar merupakan cerminan dari bagaimana keadaan hati kita. Yesus pun mengingatkan pentingnya menjaga hati,"sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang." (Markus 7:21-23). Sebagai anak Tuhan kita telah dianugerahkan Roh Kudus, dan dalam hati kitalah Dia berdiam. "Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: "ya Abba, ya Bapa!" (Galatia 4:6). Apakah hati kita berisi firman Tuhan dan mencerminkan Kristus dengan benar, atau kita terus menerus menunjukkan karakter jelek, itu akan mempengaruhi pengenalan orang akan Kristus. Rajin beribadah, selalu menyebut Tuhan, tapi berperilaku jelek, tidakkah itu akan membuat orang menertawakan Tuhan dan Juru Selamat kita? Ini adalah sesuatu yang sangat perlu kita renungkan.
Surat Kristus berarti surat yang membawa terang. Sama seperti Kristus yang merupakan Terang Dunia, kita pun seharusnya siap menjadi terang yang bisa dibaca oleh orang lain dengan mudah, lewat tulisan Roh Kudus, Roh Allah sendiri dalam loh-loh daging atau hati kita. Yesus berkata "Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Matius 5:16) Karena itulah kita harus menjaga hati kita dengan segala kewaspadaan, hingga kita bisa mencapai tingkatan yang diinginkan Tuhan bagi kita. "Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna." (Matius 5:48). Disaat seperti itulah kita bisa menjadi surat Kristus yang benar untuk dibaca banyak orang.
Segala tentang kehidupan kita seharusnya bisa menceritakan kisah cinta Yesus. Seperti halnya Yesus mencintai anda, setiap sendi kehidupan kita juga sudah selayaknya menjadi kertas yang dipakai oleh guratan pena Tuhan untuk menyatakan kasihNya yang begitu besar kepada dunia ini. Roh Allah tidak sekedar memberikan coretan kasar tapi sebuah gambaran akan kasih yang begitu indah sebagai gambaran Kristus. Apakah itu bisa dibaca orang lain, atau malah kita meninggalkan goresan-goresan kasar yang mencabik-cabik hati orang lain? Seperti apa Kristus yang kita gambarkan lewat diri kita? Sejak hari ini, marilah kita terus menjaga hati kita. Penuhi terus dengan firman Tuhan yang penuh kuasa. Ijinkan Roh Kudus terus menulis tentang Kristus dalam hati kita, dan biarlah Tuhan dipermuliakan dengan segala gambaran yang muncul keluar dari diri kita. Ingatlah bahwa diri kita selalu ibarat surat terbuka yang bisa dibaca banyak orang. Apa isi surat yang terbaca lewat anda hari ini?
Kita adalah surat Kristus yang ditulis Roh Allah langsung pada hati kita
=======================
"Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia."
Sejak jaman dahulu orang memang sudah gemar menulis surat. Diukir di atas loh batu, menggunakan buluh yang dicelup pada tinta, pena, pulpen hingga mengetik, semua itu merupakan perkembangan dari hal tulis menulis ini. Sadarkah kita jika diri kita pun sebenarnya merupakan sebuah surat, bukan hanya surat tapi juga surat terbuka? Ya, kita surat terbuka yang bisa dibaca banyak orang. Sebagai orang percaya, kita seharusnya menjadi surat yang bukan sembarang surat, tapi menjadi surat Kristus yang bisa dibaca oleh orang lain.
Firman Tuhan berkata "Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia." (2 Korintus 3:3). We are like a piece of paper that can be read by everyone. Apapun yang tertulis dalam hidup kita, bagaimana cara hidup kita, sikap dan tingkah laku kita, perbuatan kita, itu semua begitu terang benderang untuk dibaca oleh orang lain. Orang percaya seharusnya menjadi sebuah surat Kristus. Yang bukan ditulis dengan tinta biasa, bukan pada loh-loh batu, tapi ditulis oleh Roh Allah yang hidup langsung ke dalam hati kita. Dan dari hati kitalah terpancar cara hidup kita, yang akan mampu dibaca orang lain. Jika yang tertulis jelek, maka jelek pulalah yang dibaca orang, sebaliknya jika yang tertulis adalah gambaran Kristus, maka orangpun bisa "membaca" siapa Kristus sebenarnya lewat diri kita.
Apa yang tertulis dalam hati kita hari ini? Penulis Amsal mengingatkan kita untuk terus menjaga hati, karena dari sanalah sebenarnya sebuah kehidupan itu terpancar. "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Amsal 4:23). Artinya, apapun yang terpancar keluar merupakan cerminan dari bagaimana keadaan hati kita. Yesus pun mengingatkan pentingnya menjaga hati,"sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang." (Markus 7:21-23). Sebagai anak Tuhan kita telah dianugerahkan Roh Kudus, dan dalam hati kitalah Dia berdiam. "Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: "ya Abba, ya Bapa!" (Galatia 4:6). Apakah hati kita berisi firman Tuhan dan mencerminkan Kristus dengan benar, atau kita terus menerus menunjukkan karakter jelek, itu akan mempengaruhi pengenalan orang akan Kristus. Rajin beribadah, selalu menyebut Tuhan, tapi berperilaku jelek, tidakkah itu akan membuat orang menertawakan Tuhan dan Juru Selamat kita? Ini adalah sesuatu yang sangat perlu kita renungkan.
Surat Kristus berarti surat yang membawa terang. Sama seperti Kristus yang merupakan Terang Dunia, kita pun seharusnya siap menjadi terang yang bisa dibaca oleh orang lain dengan mudah, lewat tulisan Roh Kudus, Roh Allah sendiri dalam loh-loh daging atau hati kita. Yesus berkata "Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Matius 5:16) Karena itulah kita harus menjaga hati kita dengan segala kewaspadaan, hingga kita bisa mencapai tingkatan yang diinginkan Tuhan bagi kita. "Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna." (Matius 5:48). Disaat seperti itulah kita bisa menjadi surat Kristus yang benar untuk dibaca banyak orang.
Segala tentang kehidupan kita seharusnya bisa menceritakan kisah cinta Yesus. Seperti halnya Yesus mencintai anda, setiap sendi kehidupan kita juga sudah selayaknya menjadi kertas yang dipakai oleh guratan pena Tuhan untuk menyatakan kasihNya yang begitu besar kepada dunia ini. Roh Allah tidak sekedar memberikan coretan kasar tapi sebuah gambaran akan kasih yang begitu indah sebagai gambaran Kristus. Apakah itu bisa dibaca orang lain, atau malah kita meninggalkan goresan-goresan kasar yang mencabik-cabik hati orang lain? Seperti apa Kristus yang kita gambarkan lewat diri kita? Sejak hari ini, marilah kita terus menjaga hati kita. Penuhi terus dengan firman Tuhan yang penuh kuasa. Ijinkan Roh Kudus terus menulis tentang Kristus dalam hati kita, dan biarlah Tuhan dipermuliakan dengan segala gambaran yang muncul keluar dari diri kita. Ingatlah bahwa diri kita selalu ibarat surat terbuka yang bisa dibaca banyak orang. Apa isi surat yang terbaca lewat anda hari ini?
Kita adalah surat Kristus yang ditulis Roh Allah langsung pada hati kita
Subscribe to:
Posts (Atom)