Ayat bacaan: 1 Samuel 24:8
==========================
"Dan Daud mencegah orang-orangnya dengan perkataan itu; ia tidak mengizinkan mereka bangkit menyerang Saul. "
Bagaikan mengintip sasaran dan siap menyerang pada saat yang tepat. Itulah yang dirasakan orang yang diliputi dendam membara. Ada teman saya yang begitu mendendam kepada seseorang dan mengatakan hal seperti itu. Tertawa ketika musuh dalam kesulitan, dan disanalah kita akan memukul balik mereka dengan memanfaatkan situasi. Tidakkah banyak orang yang berpikir demikian? Sebab kapan lagi kita bisa mendapatkan saat sebaik itu untuk membalas dendam selain ketika mereka sedang lengah? Hati yang diliputi dendam akan selalu mencari saat-saat seperti itu. Jika itu terjadi, puaskah kita? Seringkali tidak, karena kebencian yang terus dipelihara tidak akan mudah hilang meski dengan membalas sekalipun. Tapi perasaan manusia memang gampang disakiti, dan disanalah salah satu tempat strategis bagi iblis untuk mempengaruhi kita. Tuhan tidak menginginkan kita menjadi orang bersikap seperti ini. Dan kita bisa belajar mengenai hal demikian dari kisah Daud dan Saul.
Hidup Daud dibuat menderita oleh Saul. Ia terus berada dalam pelarian akibat diburu Saul yang ingin membunuhnya. Mari kita lihat 1 Samuel 24:1-23. Pada suatu kali Saul pun mendapat kabar dari informannya bahwa Daud sedang besembunyi di padang gurun En-Gedi. Tidak tanggung-tanggung, Saul kemudian membawa 3000 prajurit terbaiknya dan bergegas memburu Daud. Pada suatu saat Saul ingin buang hajat, dan ia pun masuk ke sebuah gua. Tapi ternyata Daud berada di bagian belakang gua itu. Posisi itu sangat menguntungkan, karena Daud bisa dengan mudah membunuh Saul yang sedang lengah dari belakang. Itu pula yang dipikirkan oleh anak buah Daud. "Lalu berkatalah orang-orangnya kepada Daud: "Telah tiba hari yang dikatakan TUHAN kepadamu: Sesungguhnya, Aku menyerahkan musuhmu ke dalam tanganmu, maka perbuatlah kepadanya apa yang kaupandang baik." (ay 5a). Maka Daud pun mengendap-ngendap dan memotong sedikit ujung jubah Saul dengan diam-diam. (ay 5b). Tapi lihatlah bagaimana sikap hati Daud. Hanya memotong ujung jubah saja hatinya sudah berdebar-debar. Daud lalu memutuskan untuk tidak melakukan pembalasan meski kesempatan emas itu sudah ada tepat di depan matanya. Ia lebih memilih hatinya dikuasai kasih dan menyerahkan segalanya ke dalam tangan Tuhan. Bukan menurut kehendakku, tapi biarlah Tuhan yang memutuskan apa yang terbaik. Mungkin seperti itu isi hati Daud saat itu. Dengan tegas ia pun berkata "lalu berkatalah ia kepada orang-orangnya: "Dijauhkan Tuhanlah kiranya dari padaku untuk melakukan hal yang demikian kepada tuanku, kepada orang yang diurapi TUHAN, yakni menjamah dia, sebab dialah orang yang diurapi TUHAN." (ay 7). Daud tidak mengizinkan satupun dari anak buahnya untuk menyerang Saul. "Dan Daud mencegah orang-orangnya dengan perkataan itu; ia tidak mengizinkan mereka bangkit menyerang Saul." (ay 8). Dan kemudian Daud pun menghampiri Saul bahkan berlutut dan sujud kepadanya. Kata Daud pada Saul: "Ketahuilah, pada hari ini matamu sendiri melihat, bahwa TUHAN sekarang menyerahkan engkau ke dalam tanganku dalam gua itu; ada orang yang telah menyuruh aku membunuh engkau, tetapi aku merasa sayang kepadamu karena pikirku: Aku tidak akan menjamah tuanku itu, sebab dialah orang yang diurapi TUHAN. Lihatlah dahulu, ayahku, lihatlah kiranya punca jubahmu dalam tanganku ini! Sebab dari kenyataan bahwa aku memotong punca jubahmu dengan tidak membunuh engkau, dapatlah kauketahui dan kaulihat, bahwa tanganku bersih dari pada kejahatan dan pengkhianatan, dan bahwa aku tidak berbuat dosa terhadap engkau, walaupun engkau ini mengejar-ngejar aku untuk mencabut nyawaku." (ay 11-12). Daud pun melanjutkan: "TUHAN kiranya menjadi hakim di antara aku dan engkau, TUHAN kiranya membalaskan aku kepadamu, tetapi tanganku tidak akan memukul engkau." (ay 13). Daud menyerahkan segala sesuatu ke dalam tangan Tuhan. Biarlah keputusan Tuhan yang membalaskan sesuai dengan upah masing-masing. Membalas dendam bukanlah sesuatu yang berkenan di hadapan Tuhan. Daud tahu itu, dan ia taat, meski kesempatan emas untuk membunuh Saul sudah hadir di depan matanya. Ia bisa dengan sangat mudah menewaskan Saul, tapi ia memilih untuk tidak melakukan itu.
Di kemudian hari Yesus "Anak Daud" mengambil sebuah keputusan yang sama. Tuhan Yesus memiliki kuasa, karena Dialah yang memegang kunci di sorga dan bumi. (Matius 28:18). Dengan mudah ia bisa membumihanguskan orang-orang yang menyiksanya. Tapi Yesus memilih untuk tidak melakukannya. Dia membiarkan diriNya dipermalukan, disakiti, disiksa diluar batas perikemanusiaan. Mengapa? Karena Yesus mengasihi kita semua dan taat menjalani kehendak Bapa. Lihat apa kata Yesus: "Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi." (Lukas 22:42). Setelah menempuh sekian banyak penyiksaan dengan puncaknya di atas kayu salib, Yesus masih sanggup berkata: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." (23:34). Ini sebuah keteladanan yang luar biasa yang bisa menjadi pelajaran bagi kita. Apa yang kita alami mungkin belumlah seberat Yesus. Jika Dia bisa mengampuni dan menyerahkan segalanya ke dalam kehendak Bapa, mengapa kita tidak bisa?
Membalas bukan bagian kita, tetapi itu adalah bagian Tuhan. Apa yang menjadi bagian kita adalah mengampuni. Yesus mengajarkan demikian: "Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu." (Matius 5:43-44). Dan "Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar." (ay 45). Bukan berpikir untuk membalas dendam dan mencari saat lengah, teapi justru kita seharusnya mendoakan dan memohonkan pengampunan atas mereka. Kita diminta untuk tetap mengasihi dan memberkati mereka. Daud telah meninggalkan keteladanan seperti itu. Yesus pun demikian. Mari kita terus belajar untuk mengampuni dan mendoakan, mengasihi dan memberkati mereka yang telah berlaku jahat kepada kita.
Mengampuni dan bukan membalas, itulah yang menjadi bagian kita
Monday, June 14, 2010
Sunday, June 13, 2010
Jebakan Hutang
Ayat bacaan: Amsal 22:7
=======================
"Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutangi."
Lihatlah sebuah kisah nyata yang di alami oleh salah satu keluarga dekat saya. Ia sudah memiliki pekerjaan yang sangat baik sebagai seorang fotografer. Lalu pada suatu hari ada seseorang yang menawarkannya untuk membuka warnet. Ia tertarik dan segera berusaha meminjam uang dari saudaranya. Saudaranya pun menyanggupi dan berjanji untuk meminjam uang dari kantornya untuk dipinjamkan kembali kepada sang adik. Entah apa yang ada di pikiran si adik, mungkin tidak sabar, ia melakukan hal yang ceroboh dengan meminjam terlebih dahulu kepada rentenir. Toh uang pinjaman dari abangnya akan ia dapat segera, begitu mungkin pikirnya. Sekian puluh juta pun ia pinjam, dengan bunga yang hampir mencapai 50%, dan langsung ia pakai untuk merenovasi tempat. Apa yang terjadi selanjutnya sungguh di luar perkiraannya. Si abang tiba-tiba membatalkan bantuannya, karena menurutnya ia gagal mendapatkan pinjaman dari kantor. Sementara uang dari rentenir sudah terlanjur dipakai. Akibatnya ia pun kelabakan, terpaksa menjual kamera dan segala miliknya untuk menutupi uang pinjaman dari rentenir, itu pun cuma sanggup untuk melunasi sebagian bunga saja. Hingga hari ini ia masih terlilit masalah hutang ini. Sungguh tragis, ketika ia tadinya memiliki pekerjaan yang sukses, namun karena terburu-buru mengambil keputusan dalam berhutang maka dalam sekejap hidupnya menjadi kacau.
Hutang, apakah itu dosa atau tidak? Sejauh yang saya tahu, tidak ada ayat yang secara tegas mengatakan bahwa berhutang itu adalah dosa. Yesus sendiri pada suatu ketika pernah menasihati kita "Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu." (Matius 5:42). Kita diminta untuk memberi, dan jangan menghindar apabila ada orang yang butuh pertolongan kita. Dan memang ada kalanya dalam keadaan tertentu kita butuh meminjam sejumlah uang baik dari kerabat maupun bank dan sebagainya. Namun ketika kita tidak membayar hutang itu kembali, maka itu sudah merupakan dosa. Pemazmur mengatakan "Orang fasik meminjam dan tidak membayar kembali, tetapi orang benar adalah pengasih dan pemurah." (Mazmur 37:21). Hutang yang tidak dibayar bukanlah sesuatu yang baik di mata Tuhan. Tidak main-main sehingga orang yang tidak membayar hutang pun dikatakan sebagai orang fasik. Apakah dengan sengaja melarikan diri dari hutang atau tidak, itu tetaplah merupakan pelanggaran di mata Tuhan. Berhati-hatilah terhadap jerat hutang, karena dari sana ada banyak bahaya yang bisa menjerumuskan kita ke dalam permasalahan.
Agar tidak terjebak seperti ini, perencanaan yang matang dari segi keuangan tentu sangat dibutuhkan. Kita harus memastikan terlebih dahulu apakah kita mampu membayarnya kembali atau tidak. Jangan ambil resiko apalagi nekat, karena ada banyak bahaya mengintip di balik sebuah hutang. Ada banyak kejahatan yang bisa timbul sebagai akibat dari berhutang. Kita sering mendengar orang terpaksa mencuri bahkan membunuh karena terlilit hutang, saudara dan teman dekat bisa berubah menjkadi musuh, hubungan kekerabatan menjadi hancur dan sebagainya. Depresi dan ketakutan dikejar-kejar debt collector, hidup sembunyi dan melarikan diri dari orang lain terus menerus, itupun bisa menjadi masalah besar yang timbul akibat berhutang. Tidak lagi ada sukacita, damai dan kebahagiaan, yang ada hanyalah ketakutan. Ada banyak dosa dan masalah yang siap menjerat kita jika kita tidak hati-hati dalam melakukan pinjaman.
Tuhan tidaklah merancang kita untuk menjadi orang-orang yang berhutang. Rencana Tuhan kepada kita seperti apa yang dikatakan Yesus dalam Matius 5:42 di atas adalah meminjamkan uang, bukan meminjam uang. Lalu lihatlah apa yang dijanjikan Tuhan dalam janji berkatNya seperti yang tertulis dalam Ulangan 28:1-14. "TUHAN akan membuka bagimu perbendaharaan-Nya yang melimpah, yakni langit, untuk memberi hujan bagi tanahmu pada masanya dan memberkati segala pekerjaanmu, sehingga engkau memberi pinjaman kepada banyak bangsa, tetapi engkau sendiri tidak meminta pinjaman." (Ulangan 28:12). Berkat Tuhan seharusnya lebih dari cukup untuk kita, sehingga kita tidak perlu lagi meminjam, bahkan dari berkat-berkat Tuhan itu seharusnya mampu pula dipakai untuk membantu orang lain. Itu seharusnya yang diinginkan Tuhan bagi kita, dan bukan sebaliknya, menjadi orang yang selalu terlilit hutang dimana-mana. Dan janji berkat Tuhan ini akan hadir pada kita apabila kita melakukan hal berikut. "Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi. Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu." (ay 1-2).
Apakah berhutang itu dosa atau tidak, mungkin kita punya pendapat masing-masing mengenai hal ini. Dan saya tidak mau berdebat mengenai hal itu. Namun ingatlah bahwa ada banyak dosa yang mengintip dari berhutang, dan ini jelas sesuatu yang berbahaya bagi kita. Satu hal yang jelas, kita akan menjadi budak dari yang menghutangi, seperti yang sudah diingatkan oleh Salomo. "Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutangi." (Amsal 22:7). Kita tidak pernah dirancang Tuhan untuk menjadi budak siapapun. Kita merupakan anak-anakNya yang Dia ciptakan secara istimewa, dan posisi kita di mata Tuhan pun sungguh istimewa pula. Menjadi budak terhutang, tentu itu tidak pernah masuk dalam rencana Tuhan bagi kita. Oleh karena itu berhati-hatilah terhadap potensi hutang. Mungkin kita tidak meminjam uang dan berhutang kepada siapa-siapa secara langsung, tetapi sudahkah kita berhati-hati terhadap bentuk-bentuk yang lain, seperti credit card misalnya? Saya sendiri hingga hari ini memilih untuk tidak mempergunakan credit card apapun karena saya tidak mau terjebak pada masalah hutang menghutang ini. Tuhan sanggup memberikan berkatNya berkelimpahan kepada kita, dan itu sudah saya alami sendiri. Sebuah rumah indah saat ini hadir tanpa harus melakukan pinjaman KPR, atau pinjaman lain sama sekali, padahal uang tabungan saya hanya cukup membayar seperempatnya saja. Tapi Tuhan sanggup melakukan itu, sehingga saya tidaklah perlu meminjam apa-apa. Itulah luar biasa dan ajaibnya Tuhan yang selalu memegang janjiNya. Tuhan sudah berjanji untuk memelihara hidup kita, karena itu berpeganglah teguh kepadaNya dan jangan tergiur oleh iming-iming yang akan menjadikan kita sebagai budak hutang. Apa yang dialami oleh salah seorang keluarga dekat saya di atas hendaknya bisa menjadi sebuah peringatan bagi kita agar tetap waspada terhadap jebakan hutang ini. Cukupkan diri dengan apa yang ada. Ada perbedaan nyata antara kebutuhan dan keinginan, dan aturlah segala sesuatu sesuai dengan kemampuan kita. Sedapat mungkin, hindarilah berhutang, dan jangan terjebak berbagai tawaran kartu kredit dan lain-lain apabila kita memang tidak membutuhkannya. Tuhan tahu apa yang kita butuhkan, dan Dia siap memberikan itu tanpa kita harus terjebak dalam persoalan hutang ini.
Disiplin dalam hal keuangan mutlak diperlukan agar kita tidak terjatuh pada jebakan hutang
=======================
"Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutangi."
Hutang, apakah itu dosa atau tidak? Sejauh yang saya tahu, tidak ada ayat yang secara tegas mengatakan bahwa berhutang itu adalah dosa. Yesus sendiri pada suatu ketika pernah menasihati kita "Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu." (Matius 5:42). Kita diminta untuk memberi, dan jangan menghindar apabila ada orang yang butuh pertolongan kita. Dan memang ada kalanya dalam keadaan tertentu kita butuh meminjam sejumlah uang baik dari kerabat maupun bank dan sebagainya. Namun ketika kita tidak membayar hutang itu kembali, maka itu sudah merupakan dosa. Pemazmur mengatakan "Orang fasik meminjam dan tidak membayar kembali, tetapi orang benar adalah pengasih dan pemurah." (Mazmur 37:21). Hutang yang tidak dibayar bukanlah sesuatu yang baik di mata Tuhan. Tidak main-main sehingga orang yang tidak membayar hutang pun dikatakan sebagai orang fasik. Apakah dengan sengaja melarikan diri dari hutang atau tidak, itu tetaplah merupakan pelanggaran di mata Tuhan. Berhati-hatilah terhadap jerat hutang, karena dari sana ada banyak bahaya yang bisa menjerumuskan kita ke dalam permasalahan.
Agar tidak terjebak seperti ini, perencanaan yang matang dari segi keuangan tentu sangat dibutuhkan. Kita harus memastikan terlebih dahulu apakah kita mampu membayarnya kembali atau tidak. Jangan ambil resiko apalagi nekat, karena ada banyak bahaya mengintip di balik sebuah hutang. Ada banyak kejahatan yang bisa timbul sebagai akibat dari berhutang. Kita sering mendengar orang terpaksa mencuri bahkan membunuh karena terlilit hutang, saudara dan teman dekat bisa berubah menjkadi musuh, hubungan kekerabatan menjadi hancur dan sebagainya. Depresi dan ketakutan dikejar-kejar debt collector, hidup sembunyi dan melarikan diri dari orang lain terus menerus, itupun bisa menjadi masalah besar yang timbul akibat berhutang. Tidak lagi ada sukacita, damai dan kebahagiaan, yang ada hanyalah ketakutan. Ada banyak dosa dan masalah yang siap menjerat kita jika kita tidak hati-hati dalam melakukan pinjaman.
Tuhan tidaklah merancang kita untuk menjadi orang-orang yang berhutang. Rencana Tuhan kepada kita seperti apa yang dikatakan Yesus dalam Matius 5:42 di atas adalah meminjamkan uang, bukan meminjam uang. Lalu lihatlah apa yang dijanjikan Tuhan dalam janji berkatNya seperti yang tertulis dalam Ulangan 28:1-14. "TUHAN akan membuka bagimu perbendaharaan-Nya yang melimpah, yakni langit, untuk memberi hujan bagi tanahmu pada masanya dan memberkati segala pekerjaanmu, sehingga engkau memberi pinjaman kepada banyak bangsa, tetapi engkau sendiri tidak meminta pinjaman." (Ulangan 28:12). Berkat Tuhan seharusnya lebih dari cukup untuk kita, sehingga kita tidak perlu lagi meminjam, bahkan dari berkat-berkat Tuhan itu seharusnya mampu pula dipakai untuk membantu orang lain. Itu seharusnya yang diinginkan Tuhan bagi kita, dan bukan sebaliknya, menjadi orang yang selalu terlilit hutang dimana-mana. Dan janji berkat Tuhan ini akan hadir pada kita apabila kita melakukan hal berikut. "Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi. Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu." (ay 1-2).
Apakah berhutang itu dosa atau tidak, mungkin kita punya pendapat masing-masing mengenai hal ini. Dan saya tidak mau berdebat mengenai hal itu. Namun ingatlah bahwa ada banyak dosa yang mengintip dari berhutang, dan ini jelas sesuatu yang berbahaya bagi kita. Satu hal yang jelas, kita akan menjadi budak dari yang menghutangi, seperti yang sudah diingatkan oleh Salomo. "Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutangi." (Amsal 22:7). Kita tidak pernah dirancang Tuhan untuk menjadi budak siapapun. Kita merupakan anak-anakNya yang Dia ciptakan secara istimewa, dan posisi kita di mata Tuhan pun sungguh istimewa pula. Menjadi budak terhutang, tentu itu tidak pernah masuk dalam rencana Tuhan bagi kita. Oleh karena itu berhati-hatilah terhadap potensi hutang. Mungkin kita tidak meminjam uang dan berhutang kepada siapa-siapa secara langsung, tetapi sudahkah kita berhati-hati terhadap bentuk-bentuk yang lain, seperti credit card misalnya? Saya sendiri hingga hari ini memilih untuk tidak mempergunakan credit card apapun karena saya tidak mau terjebak pada masalah hutang menghutang ini. Tuhan sanggup memberikan berkatNya berkelimpahan kepada kita, dan itu sudah saya alami sendiri. Sebuah rumah indah saat ini hadir tanpa harus melakukan pinjaman KPR, atau pinjaman lain sama sekali, padahal uang tabungan saya hanya cukup membayar seperempatnya saja. Tapi Tuhan sanggup melakukan itu, sehingga saya tidaklah perlu meminjam apa-apa. Itulah luar biasa dan ajaibnya Tuhan yang selalu memegang janjiNya. Tuhan sudah berjanji untuk memelihara hidup kita, karena itu berpeganglah teguh kepadaNya dan jangan tergiur oleh iming-iming yang akan menjadikan kita sebagai budak hutang. Apa yang dialami oleh salah seorang keluarga dekat saya di atas hendaknya bisa menjadi sebuah peringatan bagi kita agar tetap waspada terhadap jebakan hutang ini. Cukupkan diri dengan apa yang ada. Ada perbedaan nyata antara kebutuhan dan keinginan, dan aturlah segala sesuatu sesuai dengan kemampuan kita. Sedapat mungkin, hindarilah berhutang, dan jangan terjebak berbagai tawaran kartu kredit dan lain-lain apabila kita memang tidak membutuhkannya. Tuhan tahu apa yang kita butuhkan, dan Dia siap memberikan itu tanpa kita harus terjebak dalam persoalan hutang ini.
Disiplin dalam hal keuangan mutlak diperlukan agar kita tidak terjatuh pada jebakan hutang
Subscribe to:
Posts (Atom)