Saturday, August 14, 2010

Rut yang Bertanggung Jawab

Ayat bacaan: Rut 2:18 (BIS)
=====================
"Kemudian ia pulang ke kota dengan membawa hasil pungutannya itu dan menunjukkan kepada ibu mertuanya berapa banyak yang telah dipungutnya. Dan ia juga memberikan kepada ibu mertuanya itu makanan yang tak dapat dihabiskannya pada waktu makan."

tanggung jawab, RutKetika seorang pemimpin mendekati masa akhir jabatan dalam lembaga, instansi dan lain-lain biasanya akan diminta laporan pertanggungjawaban. Ini adalah sebuah kewajiban dari yang bersangkutan untuk melaporkan segala kegiatan, pencapaian atau catatan-catatan selama masa baktinya. Ada banyak orang yang sibuk menumpuk harta ketika sedang menjabat sesuatu, ada pula yang membuang waktu sia-sia tanpa pencapaian apapun. Dan mereka-mereka ini akan kelabakan ketika mendekati saat untuk memberikan pertanggungjawaban. Berbagai mark-up, laporan fiktif dan sebagainya pun menjadi jalan pintas untuk selamat dari sidang. Sebaliknya orang-orang yang bekerja sungguh-sungguh dengan penuh tanggungjawab dalam mengemban amanat tentu tidak akan merasa repot ketika dimintai laporan pertanggungjawaban. Satu hal yang pasti, dalam setiap aspek kehidupan kita dituntut untuk bertanggungjawab. Bahkan kelak kita pun harus mempertanggung- jawabkan segala perbuatan dan perkataan kita. Kita akan kelabakan ketika menghadapi penghakiman dari Tuhan pada saatnya nanti apabila kita tidak terbiasa melakukan segala sesuatu dengan penuh rasa tanggung jawab.

Setelah melihat beberapa kualitas diri Rut dua hari kemarin, mari kita lihat hal lain yang bisa kita pelajari dari sikap hidupnya. Selain rendah hati, sederhana dan sungguh-sungguh, lalu juga setia, Rut juga merupakan seseorang yang penuh tanggung jawab.

Rut mengikuti mertuanya Naomi dengan setia, masuk ke wilayah Israel yang biasanya tidak bersahabat dengan para pendatang dari Moab, seteru lama mereka. Ini adalah hal yang tentu sulit untuk dijalani. Apalagi Naomi pulang dalam keadaan tidak punya apa-apa. Sebagai seorang pendatang dari Moab, apa yang bisa dilakukan Rut disana? Sebagian orang mungkin hanya akan diam di rumah. Buat apa repot, toh saya sudah mengorbankan diri untuk menemani mertua saya sepanjang sisa hidupnya? Mungkin itu akan menjadi pikiran yang terlintas di benak sebagian orang ketika berada di pihak Rut. Tapi Rut tidak berpikir seperti itu. Meski statusnya sebagai orang asing di Betlehem, Rut ternyata mau mengambil inisiatif untuk bekerja agar bisa mencukupi nafkah hidup dirinya dan Naomi sang mertua. Rut sadar betul bagaimana kondisi mertuanya yang sudah berusia lanjut. Dirinya yang masih muda dan kuat, tentu saja ia yang harus bekerja. Dan kita bisa melihat bahwa Rut benar-benar mengambil tanggung jawab untuk bekerja.

Apa yang dikerjakan Rut adalah sebuah pekerjaan yang tergolong paling rendah pada saat itu, yaitu memunguti jelai yang jatuh ketika penyabit-penyabit sedang memanen ladangnya. Meski pekerjaan itu termasuk yang terendah, namun didasari rasa tanggungjawab membuat Rut rela melakukan semua itu tanpa mengeluh atau merasa terpaksa. Ia memilih untuk tidak meratapi nasibnya tetapi mempergunakan tenaga dan pikirannya untuk melakukan pekerjaan dengan sebaik mungkin. Ia mengambil alih tanggungjawab agar Naomi bisa makan dan tercukupi kebutuhannya. Lihatlah bagaimana Rut bekerja keras untuk itu, lalu membawa pulang hasilnya untuk dinikmati bersama. "Diangkatnyalah itu, lalu masuklah ia ke kota. Ketika mertuanya melihat apa yang dipungutnya itu, dan ketika dikeluarkannya dan diberikannya kepada mertuanya sisa yang ada setelah kenyang itu.." (Rut 2:18) atau dalam versi BIS bisa kita lihat lebih jelas: "Kemudian ia pulang ke kota dengan membawa hasil pungutannya itu dan menunjukkan kepada ibu mertuanya berapa banyak yang telah dipungutnya. Dan ia juga memberikan kepada ibu mertuanya itu makanan yang tak dapat dihabiskannya pada waktu makan." Itulah gambaran tanggungjawab yang dilakukan Rut, sebuah tanggungjawab yang dijalankan dengan sepenuh hati.

Bagaimana dengan kita hari ini? Sudahkah kita memiliki tanggung jawab seperti ini terhadap keluarga kita? Sudahkah kita bertanggung jawab penuh kepada istri, anak-anak dan orang tua, atau kita masih terlalu sibuk saling melempar tanggung jawab dalam berbagai sisi kehidupan? Sudahkah kita bertanggungjawab penuh dalam bekerja atau kita masih sibuk mencari celah untuk menghindar dari kewajiban kita? Ketika Tuhan sudah memberi talenta kepada kita, bisakah kita mempertanggungjawabkannya? (Bacalah Perumpamaan tentang Talenta dalam Matius 25:14-30). Petrus mengingatkan kita agar selalu siap untuk memberi pertanggungjawaban kepada siapapun yang meminta. "Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat dan dengan hati nurani yang murni.." (1 Petrus 3:15-16). Itu artinya kita harus selalu siap melakukan segala yang kita kerjakan dengan sepenuh hati dan sungguh-sungguh. Setiap saat kita diminta agar siap sedia untuk memberi pertanggungjawaban, dan jangan lupa kelak kita pun harus siap memberikan hal ini ketika menghadapi tahta penghakiman Tuhan. Dalam surat Roma kita bisa membaca hal ini: "Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah." (Roma 14:12). Bagi kehidupan kekristenan, tanggung jawab merupakan hal yang sangat penting, baik dalam keluarga, pekerjaan, usaha, pelayanan bahkan dalam seluruh aspek kehidupan kita yang nantinya harus kita buka di hadapan Tuhan. Itulah sebabnya kita diminta untuk melakukan yang terbaik dengan segenap hati bukan seperti untuk manusia melainkan seperti untuk Tuhan. (Kolose 3:23). Milikilah sikap bertanggungjawab penuh seperti Rut. Jangan buang waktu lagi, mulailah dari sekarang.

Biasakan hidup dengan penuh tanggungjawab sejak saat ini

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, August 13, 2010

Rut dan Kesetiaannya

Ayat bacaan: Rut 1:16
================
" Tetapi kata Rut: "Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku."

rut dan kesetiaanAda seorang ibu yang dikenal oleh seorang teman saya saat ini hidup sendirian sakit-sakitan di sebuah rumah kecil. Ia hidup sebatang kara menjalani sisa hidupnya. Apakah ia tidak punya anak? Justru sebaliknya, ia punya 9 orang anak! Tapi tidak satupun punya cukup waktu untuk mengurusnya. Bahkan tidak satupun anaknya yang mau mengajaknya untuk tinggal di rumah mereka. "Betapa kasihan", kata teman saya. "Dulu ia sanggup membesarkan 9 orang anak seorang diri hingga sukses, tetapi sekarang 9 orang anak tidak sanggup merawat satu ibu." Memprihatinkan bukan? Panti jompo penuh dengan para orang tua yang terbuang seperti ini. Hanya sedikit yang dijenguk anak-anaknya secara reguler. Pertanyaannya, jika seorang anak saja sanggup untuk tidak mempedulikan sisa umur orang tuanya sendiri, bagaimana dengan menantu? Tidak jarang ada jurang membentang diantara mertua dan menantu, apalagi di zaman sekarang ketika orang yang berusia lebih muda sudah tidak lagi mementingkan untuk bersikap hormat kepada orang yang lebih tua.

Menyambung renungan kemarin tentang kerendahan hati, kesederhanaan dan kesungguhan Rut, hari ini mari kita lihat satu lagi kualitas luar biasa yang dimiliki Rut, yaitu kesetiaan. Rut orang Moab menikah dengan anak Naomi ketika Naomi sekeluarga memutuskan untuk pindah ke Moab menghindari bencana kelaparan yang tengah melanda Israel saat itu. Sayang sekali usia pernikahan mereka cukup singkat karena suami, kakak ipar dan ayah mertuanya tidak lama kemudian meninggal. Naomi pun kemudian memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya. Sebelum berangkat, ia  meminta kedua menantunya untuk kembali saja ke bangsanya Moab, tidak perlu ikut ke Betlehem. "Berkatalah Naomi kepada kedua menantunya itu: "Pergilah, pulanglah masing-masing ke rumah ibunya; TUHAN kiranya menunjukkan kasih-Nya kepadamu, seperti yang kamu tunjukkan kepada orang-orang yang telah mati itu dan kepadaku; kiranya atas karunia TUHAN kamu mendapat tempat perlindungan, masing-masing di rumah suaminya." Lalu diciumnyalah mereka, tetapi mereka menangis dengan suara keras." (Rut 1:8-9). Semula kedua menantu Naomi, Rut dan Orpa menolak untuk pulang. Tetapi atas desakan Naomi, Orpa kemudian kembali ke bangsanya, sedangkan Rut dengan tegas menolak. Ia mau tetap menunjukkan kesetiaan penuh sebagai seorang menantu, meski suaminya sudah tidak ada lagi. " Tetapi kata Rut: "Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku." (ay 16). Bahkan Rut berkata Tuhan akan menghukumnya dengan seberat-beratnya apabila ia memisahkan diri dari mertuanya selain daripada akibat kematian. (ay 17). Rut tentu tahu bagaimana kehidupan berat yang akan ia hadapi di negeri asing yang memusuhi bangsanya. Tetapi kesetiaan merupakan harga mati baginya, dan dia siap untuk menanggung apapun demi mempertahankan kesetiaan.

Itulah sebuah kualitas sikap dari Rut. Apa yang ia lakukan sungguh mengharukan untuk kita simak. Sebagai seorang janda yang sudah lanjut usia, Naomi tadinya tidak berharap banyak dari kedua menantunya. Ia bahkan sudah merelakan keduanya untuk kembali ke bangsanya masing-masing, memulai hidup baru tanpa perlu menderita lagi untuk hidup sulit bersamanya. Namun Rut mengasihi mertuanya, dan ia tahu kesetiaan memang terkadang memang mahal harganya. Tuhan sendiri menaruh perhatian khusus bagi para janda. He's deeply concern about them. Lihatlah perikop mengenai janda yang secara khusus disinggung dalam 1 Timotius 5:3-16. Diantaranya berbunyi seperti ini: "Hormatilah janda-janda yang benar-benar janda." (ay 1) Benar-benar janda disini berarti tidak lagi memiliki siapapun yang mau mengurusi mereka, alias sebatang kara. Ayat berikutnya berbunyi: "Tetapi jikalau seorang janda mempunyai anak atau cucu, hendaknya mereka itu pertama-tama belajar berbakti kepada kaum keluarganya sendiri dan membalas budi orang tua dan nenek mereka, karena itulah yang berkenan kepada Allah." (ay 2). Anak atau cucu mereka, itulah  yang pertama wajib untuk memperhatikan nasib mereka yang menjanda, sebab hal seperti itu akan menyenangkan hati Allah. Rut melakukannya, dan tidak heran apabila Tuhan pun berkenan kepadanya.

Salah satu dari 10 Perintah Allah yang diturunkan lewat Musa berbunyi "Hormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu." (Ulangan 5:16). Ayah dan ibu, termasuk pula mertua harus kita hormati dan kasihi dengan sepenuh hati. Hal seperti itu berkenan di mata Tuhan, dan dengan demikianlah kita dikatakan akan diberkati hingga lanjut usia dalam keadaan baik. Sudahkah kita peduli terhadap orang tua kita? Apakah kita sudah membalas budi mereka membesarkan, menyekolahkan dan mengurus kita hingga kita bisa menjadi siapa kita hari ini? Jangan tunda lagi, nyatakan kasih dan kesetiaan anda sebagai anak dengan menyayangi dan memperhatikan mereka sepenuhnya. Jika dulu kita dibesarkan dengan penuh kasih hingga berhasil, mengapa kita tidak bisa menunjukkan bakti kita kepada mereka sekarang?

Tuhan berkenan kepada orang yang mengasihi orang tuanya seperti yang diperlihatkan Rut

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho