Saturday, October 16, 2010

Kaleb dan Kesetiaannya

Ayat bacaan: Yosua 14:17
====================
"Itulah sebabnya Hebron menjadi milik pusaka Kaleb bin Yefune, orang Kenas itu, sampai sekarang ini, karena ia tetap mengikuti TUHAN, Allah Israel, dengan sepenuh hati."

tetap setiaBerapa lama toleransi kita untuk bersabar menunggu sebuah janji digenapi? Jawaban bisa berbeda-beda pada setiap orang, dan mungkin akan tergantung pula pada situasi dan kondisi kita. Ada kalanya kita bisa bersabar, tapi ada pula waktu dimana kita sulit untuk itu.Ada banyak pasangan yang akhirnya memilih untuk bubar karena apa yang mereka harapkan tidak kunjung tiba. Mereka menginginkan pasangannya berubah, tapi ketika itu tidak kunjung terjadi hingga sebuah batas waktu yang mampu ditolerir, merekapun memutuskan untuk mengakhiri saja hubungan itu. Seringkali tidak mudah bagi kita untuk bersabar. Ketidak sabaran pun bisa menjadi salah satu alasan terbesar mengapa kesetiaan akhirnya harus dikorbankan. Terhadap sesama manusia seperti itu, kepada Tuhan pun sama. Ketika janji-janji Tuhan terasa terlalu lama menurut standar ukuran waktu kita, maka kepercayaan kita kepadaNya pun bisa goyah. Dan akhirnya, kesetiaan kepada Tuhan bukan lagi sesuatu yang penting dalam hidup kita.

Alkitab mencatat banyak contoh mengenai upah yang diterima yang berawal dari kesetiaan. Yusuf, Abraham, Musa, mereka mengalami saat-saat dimana kesabaran dan kesetiaan mereka diuji. Rentang waktu yang harus mereka jalani untuk tetap setia pun terbilang tidak singkat. Satu lagi contoh yang akan saya angkat sesuai tema hari ini adalah mengenai Kaleb bin Yefune.

Kisah Kaleb mulai kita kenal ketika Musa menugaskan 12 orang yang mewakili masing-masing suku untuk mengintai situasi dan kondisi di tanah Kanaan, tanah yang dijanjikan Tuhan bagi mereka. (Bilangan 13:1-33), dan Kaleb adalah satu dari kedua belas pengintai itu. Setelah 40 hari mereka menjalankan tugas itu, maka mereka pun kembali dengan kesimpulan sebagai berikut: "Kami sudah masuk ke negeri, ke mana kausuruh kami, dan memang negeri itu berlimpah-limpah susu dan madunya, dan inilah hasilnya. Hanya, bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat dan kota-kotanya berkubu dan sangat besar, juga keturunan Enak telah kami lihat di sana." (ay 27-28). Tempatnya memang sangat kaya dan subur, tetapi ada orang-orang berukuran raksasa tinggal disana. Sebagian besar dari mereka kecut melihat situasi disana. Bagaimana mungkin masuk berperang melawan raksasa di kota yang dilindungi benteng-benteng kokoh? Itu kata mereka. Bahkan saking kecut hati mereka menilai diri mereka sendiri seperti belalang yang lemah, kecil dan tidak berarti dibanding bangsa Enak yang besar-besar itu. (ay 33). Tetapi tidak semua pengintai bersikap pesimis seperti itu. Kaleb adalah salah satu pengintai yang memiliki sikap hati positif. Dengan tegas ia membantah pesimisme rekan-rekannya. "Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!" (ay 30). Mengapa Kaleb bisa seyakin itu? Karena ia percaya jika Tuhan sendiri berjanji untuk memberikan tanah itu kepada bangsanya, maka Tuhan pun pasti akan membantu dalam prosesnya. Tuhan yang memberi, masa Tuhan membiarkan mereka binasa? Kaleb memiliki iman yang teguh, itu membuatnya mampu percaya kepada Tuhan. Dan dari kisah selanjutnya mengenai Kaleb kita tahu bahwa kesetiaannya kepada Tuhan sungguh luar biasa.

Dalam kitab Yosua kita bisa melihat kisah Kaleb 45 tahun kemudian. Pada saat itu Kaleb sudah berusia 85 tahun. Hingga saat itu ternyata ia belum juga memperoleh apa yang dijanjikan Tuhan kepadanya. Bayangkan sebuah penantian 45 tahun. Mampukah kita bersabar setengahnya saja? Tentu sulit. Tapi Kaleb menunjukkan kesetiaan yang luar biasa. Kaleb berkata "Aku berumur empat puluh tahun, ketika aku disuruh Musa, hamba TUHAN itu, dari Kadesh-Barnea untuk mengintai negeri ini; dan aku pulang membawa kabar kepadanya yang sejujur-jujurnya." (Yosua 14:7). 10 pengintai lain menyampaikan kabar dengan pesimis, sehingga kesimpulan mereka membuat bangsa Israel menjadi tawar hati. Tapi tidak bagi Kaleb, sebab ia "tetap mengikuti TUHAN, Allahku, dengan sepenuh hati." (ay 8). Ia melanjutkan "Pada waktu itu Musa bersumpah, katanya: Sesungguhnya tanah yang diinjak oleh kakimu itu akan menjadi milik pusakamu dan anak-anakmu sampai selama-lamanya, sebab engkau tetap mengikuti TUHAN, Allahku, dengan sepenuh hati. Jadi sekarang, sesungguhnya TUHAN telah memelihara hidupku, seperti yang dijanjikan-Nya. Kini sudah empat puluh lima tahun lamanya, sejak diucapkan TUHAN firman itu kepada Musa, dan selama itu orang Israel mengembara di padang gurun. Jadi sekarang, telah berumur delapan puluh lima tahun aku hari ini" (ay 9-10). 85 tahun, itu usia yang sudah sangat renta. Pada usia seperti ini kondisi fisik pasti sudah jauh melemah. Tapi ternyata Kaleb memiliki semangat yang luar biasa. Ia berkata "pada waktu ini aku masih sama kuat seperti pada waktu aku disuruh Musa; seperti kekuatanku pada waktu itu demikianlah kekuatanku sekarang untuk berperang dan untuk keluar masuk." (ay 11). Mungkin fisiknya sudah lemah, namun semangat hidupnya masih tetap sama seperti 45 tahun yang lalu. Itu menunjukkan bagaimana ia masih tetap berjalan mengikuti Tuhan dengan sepenuh hati meski apa yang dijanjikan belum kunjung ia peroleh setelah sedemikian lama. Kaleb menunjukkan kesetiaan yang besar yang tidak tergantung oleh situasi, kondisi maupun waktu. Ia hanya tahu, jika Tuhan sudah berjanji, pada waktunya janji itu pasti ditepati. Ia tahu betul bahwa Tuhan bukanlah Pribadi yang suka ingkar janji. Dan pada usia ke 85 itu akhirnya Kaleb bin Yefune menerima apa yang telah dijanjikan untuknya. Ia memperoleh Hebron sebagai milik pusakanya. (ay 13). Hebron bukanlah kota yang termudah untuk ditaklukkan, justru merupakan sebuah kota yang didiami oleh orang-orang yang paling besar di antara bangsa raksasa, Enak. (ay 15). Keteguhan hati, semangat hidup, kepercayaan penuh dan kesetiaan tak terbatas mewarnai iman dari Kaleb. Dan Alkitab mencatat hal itu dengan gemilang. "Itulah sebabnya Hebron menjadi milik pusaka Kaleb bin Yefune, orang Kenas itu, sampai sekarang ini, karena ia tetap mengikuti TUHAN, Allah Israel, dengan sepenuh hati." (ay 14).

Mampukah kita bersabar seperti Kaleb? Kesabaran sesungguhnya akan teruji oleh waktu, begitu pula halnya dengan kesetiaan. Kaleb, seperti halnya Yusuf, Abraham dan banyak tokoh lainnya sudah menunjukkan bahwa kesabaran dan kesetiaan mereka menuju kepada happy ending. Jika bagi mereka seperti itu, bagi kita pun sama. Tuhan tidak akan pernah ingkar janji, hanya saja waktuNya mungkin berbeda dengan keinginan kita. Di saat seperti itu, sanggupkah kita menunjukkan kesetiaan seperti Kaleb?

Percayalah bahwa janji Tuhan akan selalu digenapi, karena itu tetaplah setia

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, October 15, 2010

Jangan Malas

Ayat bacaan: Amsal 12:27
=====================
"Orang malas tidak akan menangkap buruannya, tetapi orang rajin akan memperoleh harta yang berharga."

jangan malasAda sebuah warung makan tidak jauh dari rumah saya. Sajian mereka sangat lezat, namun mereka buka sekehendak hatinya saja. Tidak ada jadwal teratur untuk berjualan. Hari ini buka, besok tutup, dan ketika ditanyakan jawaban mereka pun terkadang begitu santai, "kemarin kita diajakin mancing pak.. jadi kita tutup." Dengan etos kerja dan disiplin seperti ini bagaimana mau maju? Anehnya si penjual masih saja heran karena merasa dagangannya tidak mengalami kemajuan. Begitulah kebiasaan kita manusia. Banyak orang cenderung mengharapkan berkat jatuh dari langit tanpa perlu berbuat apa-apa. Hanya duduk diam di rumah, uang akan turun sendiri bagai kucuran hujan. Kalau tidak? Mereka akan dengan ringan berkata itu sudah takdir. Mengatakan takdir sama saja dengan menyalahkan Tuhan yang seolah-olah menciptakan mereka untuk miskin dan menderita hidup di dunia ini.

Kemalasan semakin lama semakin membudaya dimana-mana. Hidup yang semakin sulit ternyata tidak membuat orang menjadi semakin giat berjuang, tetapi sebaliknya malah semakin malas. Ini fenomena dan realita yang bisa kita saksikan di sekitar kita. Kepinginnnya jangan hanya diberi makan, tapi disuapi sekalian. Tuhan tidak menginginkan anak-anakNya tumbuh menjadi orang-orang yang malas. Berkat Dia sediakan secara berlimpah, tapi kita tidak diajarkan untuk menjadi manja dan hanya menanti saja. Kita harus pula bekerja giat untuk mencapainya. Bukankah selain menyediakan berkat Tuhan pun menyediakan berbagai talenta, bakat atau kemampuan bagi kita untuk dipergunakan agar bisa menerima berkat-berkat itu? Tuhan tidak senang menyediakan segala sesuatu secara instan, meski Dia sanggup untuk itu. Mengapa? Karena itu tidak mendidik, malah akan melemahkan atau merusak. Tuhan lebih senang menyediakan kail yang dapat dipergunakan untuk memancing ikan ketimbang melemparkan ikan-ikan itu dari langit langsung ke rumah kita.

Mari kita lihat sedikit kisah ketika bangsa Israel berada di Silo (Yosua 18). Pada saat itu segenap umat Israel berkumpul dan mendirikan Kemah Pertemuan di sana. Tuhan telah menyertai mereka sedemikian rupa sehingga negeri yang dijanjikan Tuhan kepada mereka itu secara umum telah berhasil mereka taklukkan. Meski Tuhan sudah memberkati mereka dengan tanah yang melimpah madu dan susunya seperti itu, dan Tuhan sendiri pula sudah menyertai mereka dalam setiap langkah untuk merebut tanah yang dijanjikan itu, tetapi tetap saja suku-suku tersebut enggan berangkat berperang untuk menguasai wilayah yang masih tersisa. Tuhan sudah menyediakan segalanya dan membantu, tetapi mereka masih juga malas-malasan. Maka akhirnya datanglah teguran melalui Yosua atas mereka. "Sebab itu berkatalah Yosua kepada orang Israel: "Berapa lama lagi kamu bermalas-malas, sehingga tidak pergi menduduki negeri yang telah diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allah nenek moyangmu?" (ay 3). Sikap malas dan senang menunda-nunda ternyata sudah ada sejak dulu dan terus membudaya hingga hari ini. Pesan yang sama dalam konteks yang sedikit berbeda pun berlaku pula bagi kita. Berapa lama lagi kita harus bermalas-malasan sehingga tidak pergi menggapai janji-janji yang telah disediakan Tuhan bagi kita?

Ada banyak ayat yang menggambarkan ketidaksukaan Tuhan atas orang-orang yang malas. Salah satunya dikatakan: "Orang malas tidak akan menangkap buruannya, tetapi orang rajin akan memperoleh harta yang berharga." (Amsal 12:27). Bagaimana kita bisa menangkap janji Tuhan jika kita enggan bergerak dan mulai melakukan sesuatu dengan serius? Sangat disayangkan ketika Tuhan sudah meletakkan berkat-berkatNya di depan kita, tetapi kemalasan membuat kita tidak akan pernah bisa meraihnya. Mengharapkan berkat tanpa adanya usaha sama saja dengan mengharapkan bintang jatuh dari langit. Kita harus mulai melakukan sesuatu dan berhenti membuang-buang waktu serta kesempatan.

Keselamatan pun demikian. Kita memang mendapatkan keselamatan lewat iman sebagai kasih karunia yang diberikan Allah pada kita dan bukan karena hasil pekerjaan kita (Efesus 2:8), tetapi kita tidak berhenti disana. Kita masih tetap harus bekerja keras memelihara keselamatan itu agar tidak lepas dari genggaman kita. Paulus mengatakan hal itu dengan menyatakan bahwa kita harus terus mengerjakan keselamatan kita. "Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir." (Filipi 2:12). Tuhan sudah begitu baiknya, Dia bahkan telah mengatakan bahwa Dia sendirilah yang bekerja di dalam kita untuk memampukan kita (ay 13). Tapi semua itu akan sia-sia jika kita tidak mau bergerak dan memilih untuk diam saja. Lihatlah ketika Tuhan Yesus memberi perumpamaan ini: "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu." (Matius 7:24). Tuhan Yesus memberi perumpamaan dengan membangun rumah. Itu berbicara mengenai sebuah proses terus menerus, berkelanjutan dan usaha yang tidak sedikit. Ketika kita sudah mendengar firman Tuhan, kita harus melanjutkannya ke tahap selanjutnya, yaitu melakukannya. Itupun melalui proses secara bertahap dan kontinu, seperti sedang membangun rumah.

Contoh lain, lihatlah ketika Yesus bertemu Petrus untuk pertama kalinya (Lukas 5:1-11). Pada saat itu Petrus sedang bersedih karena ia tidak menangkap seekor ikan pun semalaman. Apa yang dilakukan Yesus? Dia tidak menurunkan ikan secara langsung dari langit, tetapi Dia malah menyuruh Simon untuk kembali bertolak ke tempat yang dalam dan kembali menebarkan jala. (ay 4). Meski Yesus sanggup untuk langsung memberi ikan, tetapi Dia lebih memilih untuk memberkati lewat usaha kita. Ikan-ikan, atau berkat-berkat, sudah disediakan Tuhan di depan bagi kita. Ia pun sudah menyediakan kail atau jala untuk menangkapnya. Semua tinggal tergantung kita, apakah kita mau masuk ke dalam untuk melemparkan jala atau memilih hanya menjadi penonton di luar tanpa melakukan apapun. Orang malas tidak akan pernah bisa mendapatkan buruannya, tetapi hanya orang yang rajinlah yang akan memperoleh harta yang berharga.

Dimana kita saat ini? Apakah kita masih berleha-leha menyia-nyiakan berbagai peluang mulai dari peluang kesuksesan hingga keselamatan, atau kita sudah berusaha untuk mencapainya dengan serius dan sungguh-sungguh? Marilah kita berhenti sebagai orang malas, dan mulai berpikir untuk mewujudkan rencana-rencana Tuhan bagi kita lewat sebuah kehidupan yang rajin. Tuhan tidak menginginkan anak-anakNya untuk menjadi orang-orang yang manja dan malas. Dia sudah menyiapkan berkat bagi kita, maukah kita bergerak untuk mendapatkannya?

Jadilah orang-orang rajin yang mau menggapai berkat Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho