Kedua, Tuhan bukanlah Pribadi yang hanya berpangku tangan, tetapi lebih daripada itu Dia adalah Sosok yang bersikap Pro-Aktif. Dalam beberapa kesempatan Tuhan menunjukkan betapa Dia rela mengulurkan tanganNya terlebih dahulu untuk menggugah kita agar segera bertobat dan kembali ke jalanNya. Dalam kasus Zakheus Yesus menunjukkan hal itu. Dia mau menyapa dan mendatangi orang yang berdosa seperti apapun dan membuka kesempatan untuk bertobat. Dalam kisah kemunculan Yesus di kolam Betesda (Yohanes 5:1-18) Dia mendatangi seseorang yang tampaknya sudah kehilangan harapan karena tidak mampu bersaing dengan para pesakitan lainnya dan menawarkan kesembuhan juga keselamatan. "Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk." (ay 14).Dalam kisah perjumpaan Yesus dengan wanita Samaria di sumur (Yohanes 4:1-42) kita kembali menyaksikan reaksi yang sama. Seorang wanita dari bangsa yang dianggap hina oleh bangsa Yahudi Dia hampiri dan diberikan air hidup. (ay 10), dimana "..barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal." (ay 14).
Tuhan selalu mau menjangkau kita terlebih dahulu sebelum kita menjangkauNya. Bahkan Yesus sendiri telah mati ketika kita sendiri masih bergelimang dosa. (Roma 5:8). Dia begitu mengasihi kita dan tidak pernah ingin siapapun dari kita untuk binasa. Dia ingin kita semua selamat, itu kerinduanNya, dan untuk itu Dia tidak segan-segan untuk menjamah kita terlebih dahulu. Firman Tuhan berkata: "Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku." (Wahyu 3:20). Yesus tidak hanya berpangku tangan, menunggu dan membiarkan kita untuk terus mengarah kepada jurang kebinasaan, tetapi Dia mau mengetuk pintu hati kita agar mau menerimaNya lalu menerima keselamatan daripadaNya. Tidak ada kata terlambat, kesempatan selalu terbuka bagi kita selama kita masih hidup. Dan Tuhan tidak sungkan untuk bertindak terlebih dahulu untuk itu.
Hal ketiga yang bisa kita jadikan pelajaran dari kisah Zakheus adalah, jika Tuhan saja mau menjangkau orang berdosa, yang tertolak atau yang dianggap hina dimata masyarakat, mengapa kita tidak mau melakukannya? Mengapa kita tega ikut-ikutan menganggap bahwa mereka memang tidak pantas diselamatkan, tidak jarang pula ada yang tega mengutuki mereka? Seperti halnya kita, mereka pun merupakan ciptaan Tuhan yang Dia kasihi, dan sama-sama Dia inginkan untuk selamat. Aliran kasih Tuhan bisa tersalur kepada mereka lewat kita, representatif Kerajaan Allah di muka bumi pada saat ini. Begitu pentingnya pesan ini maka Yesus pun menyatakan "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." (Matius 25:40).
Keempat, lihatlah bahwa pertobatan kita bisa berdampak luas bukan saja kepada diri kita sendiri tapi bisa menjangkau seisi rumah atau keluarga kita. Yesus dengan jelas berkata kepada Zakheus: "Kata Yesus kepadanya: "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham." (Lukas 19:9). Lihatlah bahwa pertobatan satu orang Zakheus ternyata membawa keselamatan kepada seluruh keluarganya. Kembali hal yang sama bisa kita saksikan atas kepala penjara Filipi yang memenjarakan dan memasung Paulus dan Silas. (Kisah Para Rasul 16:19-40). Dalam kisah itu si kepala penjara menyaksikan sendiri bagaimana kuasa tangan Tuhan melepaskan Paulus dan Silas sebagai jawaban atas doa dan puji-pujian yang mereka panjatkan sepanjang malam. Menyaksikan itu, ia pun terhenyak dan ingin bertobat. Paulus dan Silas menjawab: "Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu." (ay 31). Pertobatan kita bisa menjamah hati seisi keluarga, dan Tuhan bisa memakai pertobatan kita untuk membawa keselamatan secara luas bagi keluarga kita. Bagaimana di jaman ini? Seorang Pendeta baru saja memberi kesaksian, bahwa lewat pertobatan seorang wanita, seluruh keluarga besarnya kemudian bertobat dengan Jumlah mencapai lebih dari 100 orang.
Sebuah kasih yang sejati dari Allah memiliki kuasa yang sangat besar untuk membawa transformasi baik kepada pribadi orang per-orang bahkan kepada kota, negara bahkan dunia. Kasih sejati dari Allah itu sanggup menyentuh hati dan mengubah hidup. Tidak peduli seberapa besar dosa kita di masa lalu, selalu ada pengampunan untuk itu. "Marilah, baiklah kita berperkara! --firman TUHAN--Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba." (Yesaya 1:18). Kepada salah seorang yang disalibkan di sebelah Yesus, Dia berkata "..sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus." (Lukas 23:43). Tuhan selalu membuka pintu selebar-lebarnya untuk menerima pertobatan dan mengampuni kita, lebih dari itu Dia pun tidak segan-segan bertindak pro-aktif untuk menjangkau kita terlebih dahulu. Begitu besar kasih karunia Tuhan kepada kita, sehingga sudah seharusnya kita pun tidak menutup mata dari orang-orang yang mungkin dikucilkan dari masyarakat atau yang merasa tidak lagi punya pengharapan. Merekapun dikasihi Tuhan sama seperti kita, dan itu harus kita sampaikan kepada mereka. Marilah kita bersyukur atas kebaikan Tuhan yang terus mencurahkan berkat dan kasih karuniaNya kepada kita, dan marilah kita salurkan semua itu kepada orang lain.
Kasih yang tulus mampu menyentuh hati dan membawa transformasi hidup
Pernahkah anda bertemu dengan orang-orang yang memakai fasilitas umum sesuka mereka? Saya rasa ini adalah sesuatu yang kita alami sehari-hari. Misalnya ketika mengantri di ATM, selalu saja ada orang yang tidak peduli dengan antrian panjang dibelakangnya. Mereka santai di dalam sehingga membuat orang-orang dibelakangnya kesal. Itupun setelah keluar sama sekali tidak merasa bersalah. Jangankan minta maaf, rona mukanya pun tidak menunjukkan apa-apa. Mengantri di bank pun demikian. Selalu saja ada orang yang berlama-lama ketika sudah mendapat giliran. Demikian pula di antrian-antrian lainnya. Atau bagaimana dengan orang yang berkendara di jalan tapi tidak mematuhi tata tertib berlalu lintas? Contoh kecil saja, berjalan pelan di tengah jalan, membuat kendaraan di belakangnya harus tersendat semua. Atau setelah lampu hijau tapi tidak segera maju, parkir di tengah jalan dan sebagainya. Masalah-masalah kecil seperti ini biasa kita hadapi, dan sedikit banyak bisa membuat kita kehilangan kesabaran. Kita merasa kesal, menggerutu, dan lama-lama mengutuk dan sebagainya. Saya aslinya merupakan orang yang gampang tersulut emosinya. Dan butuh waktu yang tidak sedikit bagi saya untuk pelan-pelan merubah sifat itu. Menjadi sabar bukanlah perkara yang mudah. Tidak peduli seberapa besar keinginan saya dahulu untuk berubah, kerap kali saya gagal. Apa yang membuat saya akhirnya bisa berubah adalah dengan terlebih dahulu merubah pola pikir saya, mengisi hati dan pikiran saya dengan kasih. Ada kalanya saya masih bisa kesal tentu saja, tetapi setidaknya sebuah pandangan untuk mengasihi orang lain akan cepat membuat saya reda sehingga saya tidak harus terjebak pada berbagai jebakan di balik emosi atau kemarahan.
Pernahkah anda merasa kesulitan untuk merubah sifat atau perilaku buruk? Ada banyak orang yang memiliki masalah dengan hal ini. Mereka tahu apa yang mereka perbuat itu salah, tetapi mereka tidak kunjung berhasil untuk memperbaikinya. Ada yang sudah berhasil untuk beberapa saat, tetapi kemudian jatuh lagi ke dalam lubang yang sama. Seorang teman pernah berkata sambil tertawa, "orang bisa mengaku berhenti merokok apabila sudah berhasil tidak melakukannya setidaknya 6 tahun." Apa yang ia katakan menggambarkan sulitnya bagi kita manusia untuk membenahi hal-hal buruk dan bertahan untuk tidak kembali lagi hingga jangka waktu yang lama. Hari ini seorang teman saya bertanya bagaimana agar ia bisa mengatasi sebuah kebiasaan buruknya. Ia tahu itu salah, tetapi tidak tahu bagaimana mengatasinya, dan mengaku tidak sanggup. Ayat yang menjadi ayat bacaan hari inilah yang selanjutnya muncul di dalam hati saya. Sebagai manusia biasa memang kemampuan kita terbatas, tetapi bersama Tuhan kita bisa.
Suatu kali ada seorang teman yang bercerita bahwa ia merasa tersisih dalam keluarganya semasa kecil. Orangtuanya ternyata lebih sayang kepada adiknya laki-laki, yang dianggap sebagai penerus silsilah. "Saya cuma perempuan..tidak ada nilainya sama sekali.." katanya sedih. Dalam adat di beberapa suku bangsa mungkin demikian. Status wanita bagi sebagian kalangan dianggap lebih rendah dibanding pria. Hak-hak mereka terbatas dalam banyak hal. Padahal sosok ibu sangatlah mulia bagi kita semua. Ungkapan "surga ada dibawah telapak kaki ibu", penyebutan ibu kota, ibu pertiwi, motherland dan sebagainya menunjukkan penghargaan yang begitu besar bagi ibu yang notabene adalah wanita. Meski demikian, saya sudah bertemu dengan beberapa wanita yang kemudian mengalami banyak masalah dengan kepercayaan diri mereka berawal dari apa yang mereka alami dalam keluarganya sejak kecil. Apakah Tuhan menciptakan wanita untuk berada di bawah nilai pria, atau hanya berfungsi sebagai pelengkap penderita saja dan tidak layak untuk mendapat kehormatan? Atau haruskah anda yang wanita menyesal dilahirkan bukan sebagai pria, seperti halnya teman saya itu? Saya yakin tidak. Di mata Tuhan semua manusia ciptaanNya sama berharga, dan sama dikasihiNya. Tidak ada perbedaan gender dalam curahan kasih yang berasal dari Allah. Dan Alkitab pun banyak mencatat bahwa wanita memiliki peran-peran yang luar biasa penting bagi kelangsungan hidup manusia. Bukan saja sebagai sosok yang melahirkan, tetapi punya peranan yang luar biasa vital pula dalam perkembangan manusia termasuk di dalamnya dari segi spiritual.
Menjalankan perdamaian merupakan harapan semua orang tetapi sering sulit untuk diterapkan. Kita tidak hidup sendirian, setiap saat kita berhadapan dengan begitu banyak orang dengan tingkah, polah dan gayanya sendiri-sendiri. Gesekan bisa terjadi kapan saja dan perselisihan pun bisa timbul. Seringkali penyebabnya bukanlah masalah besar tetapi dimulai dari hal-hal yang kecil atau sepele, namun kemudian meluas sehingga pada akhirnya sulit untuk dikendalikan. Lihatlah bagaimana hutan beribu-ribu hektar bisa terbakar hanya dari akibat sepercik api kecil. Ketika api masih kecil tentu mudah dipadamkan, tetapi bagaimana ketika api itu sudah begitu besar? Itulah sebabnya kita dianjurkan untuk bersabar dan bisa menahan diri, tidak terbujuk atau terpengaruh oleh emosi sesaat yang pada akhirnya kita sesali juga tetapi sudah terlanjur menghancurkan banyak hal. Hubungan pertemanan, hubungan dalam keluarga, dalam lingkungan, atau bahkan antar negara, semua ini sering berawal dari percikan api emosi kecil yang dibiarkan meluas hingga tidak lagi bisa dikendalikan.
Perhatikan hidup dan pengaruh Yesus Kristus sepanjang sejarah, dan anda akan melihat bahawa Dia dan kata-kata-Nya sentiasa membawa perubahan yang besar dalam hidup manusia dan bangsa. Ke mana saja ajaran dan pengaruh-Nya disebarkan, kesucian dalam perkawinan, hak asasi wanita dan suara rakyat diterima. Sekolah-sekolah dan universiti-universiti didirikan; undang-undang untuk melindungi kanak-kanak diluluskan; perhambaan dihapuskan, dan banyak lagi perubahan telah dilakukan untuk kebaikan manusia.
Nubuat: Pertama, Yesus sendiri yang menubuatkan tentang kematian dan kebangkitan-Nya, dan hal-hal itu terjadi dengan tepat seperti apa yang telah Dia nubuatkan (
Tuhan yang hidup: Kerana kebangkitan Yesus, para pengikut-Nya yang sebenar tidak lagi sekadar mematuhi etika seorang pengasas yang telah mati, tetapi memiliki suatu hubungan peribadi dengan Tuhan yang hidup. Yesus Kristus hidup hari ini dan Dia setia memberkati mereka yang mempercayai dan mentaati Dia. Berabad-abad lamanya, ramai orang telah mengakui kebenaran tentang Yesus, termasuk mereka yang telah banyak mempengaruhi dunia.